NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membidik kesepakatan perdagangan bilateral Indonesia dan Amerika Serikat (AS) dapat mencapai 33 miliar dolar AS pada tahun ini.
“Kesepakatan ini diharapkan dapat menghasilkan nilai sekitar 33 miliar dolar AS yang semoga dapat mendukung berbagai sektor, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat rantai pasok antara Amerika Serikat dan Indonesia,” kata Airlangga dalam pertemuan dengan perwakilan US-ASEAN Business Council (US-ABC) di Jakarta, Selasa.
Dalam pertemuan dengan Duta Besar Brian D. McFeeters, Presiden dan CEO US-ASEAN Business Council (US-ABC), Airlangga menyampaikan bahwa hubungan perdagangan dan investasi Indonesia-AS menunjukkan perkembangan positif.
Pada Januari-Agustus 2026, perdagangan bilateral kedua negara mencapai 32,34 miliar dolar AS, tumbuh 11,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
AS juga menjadi tujuan ekspor terbesar kedua bagi Indonesia.
Sementara itu, investasi AS di Indonesia pada triwulan I - triwulan III 2026 mencapai 3,4 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan sekitar 3 miliar dolar AS pada 2025.
“Saya juga senang dengan investasi AS, yang mencapai 3,4 miliar dolar AS dalam tiga kuartal terakhir, sehingga AS kini menjadi investor terbesar keempat di Indonesia,” jelas Menko.
Airlangga mengatakan pemerintah terus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen pada 2029 melalui delapan strategi utama, yakni swasembada pangan, industrialisasi berorientasi ekspor, pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif, ekonomi hijau dan biru, pembangunan perkotaan, transformasi digital, investasi, serta belanja pemerintah yang produktif.
Dalam upaya tersebut, pemerintah membuka peluang kerja sama dengan perusahaan AS di sejumlah sektor, antara lain manufaktur, teknologi digital, kecerdasan artifisial (AI), dan energi.
Pemerintah juga mendorong kemitraan yang tidak hanya mendatangkan investasi, tetapi turut membawa teknologi dan keahlian guna mengembangkan rantai pasok nasional.
Di sektor semikonduktor sendiri, Airlangga menyampaikan bahwa nilai pasar diperkirakan meningkat dari 5,08 miliar dolar AS pada 2025 menjadi 7,07 miliar dolar AS pada 2030.
Perkembangan itu dinilai membuka peluang penguatan kerja sama industri tersebut antara Indonesia dan AS.
Selain peluang investasi, Airlangga turut membahas berbagai hambatan (debottlenecking) yang dihadapi perusahaan AS dalam menjalankan kegiatan usaha di Indonesia.
Dirinya menegaskan pemerintah membuka ruang bagi pelaku usaha untuk menyampaikan kendala yang dihadapi agar dapat ditindaklanjuti bersama kementerian/lembaga (K/L) terkait.
“Pemerintah Indonesia membuka ruang bagi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat untuk menyampaikan kendala yang dihadapi dalam menjalankan kegiatan usaha di Indonesia, sehingga dapat ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait,” jelasnya.
Dalam bidang perdagangan, kedua pihak juga membahas sejumlah isu yang masih menjadi perhatian, termasuk terkait Section 301 dan excess capacity.
Airlangga berharap pembahasan berbagai isu tersebut dapat memberikan kejelasan bagi pelaku usaha sekaligus mendukung keberlanjutan perdagangan dan penguatan rantai pasok Indonesia-AS.
“Kami terbuka bagi seluruh industri yang sebagian besar memang sudah berdiri di Indonesia. Jadi, jika Anda memiliki permintaan lain atau menghadapi tantangan tertentu, mari kita coba cari solusinya bersama,” kata Airlangga.