"Kalau kita melihat ekonomi dalam bentuk eskalator, jadi dari agriculture kita naik eskalatornya ke industri, namun dari industri ini harus dinaikkan lagi ke digitalisasi, services, dan lain-lain. Vietnam sudah ke sana, India juga sudah di sana, maka kita yang belum naik dari level 2 ke level 3. Kalau itu kita bisa lakukan, maka pertumbuhan 8% itu bisa dicapai," ujar Airlangga.
Lebih lanjut, menurutnya faktor lain yang turut mempengaruhi laju ekonomi Vietnam lebih pesat dari Indonesia adalah ketersediaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang sangat masif.
Dalam hal ini, ia mengatakan total KEK yang dimiliki Indonesia baru di kisaran 24.000 hektare. Sementara Vietnam memiliki lebih dari 2 juta hektare kawasan ekonomi yang dibantu juga dengan kepastian hukum dan kualitas pelayanan investasi yang berani.
"Indonesia punya special economic zones itu kira-kira 24.000 hektare. Vietnam punya special economic zone 2 juta hektare. Jadi dia lebih masif dari kita, lebih berani, dan sebetulnya dari segi kepastian usaha mereka juga memberikan pelayanan yang baik kepada para investor," terangnya.