NADIKABAR.COM β Akademisi Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Muhammad Sabbardi berinovasi menyusun buku ajar digital Bahasa Indonesia berbasis Outcome-Based Education (OBE) dan berwawasan pencegahan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.
"Kekerasan di lingkungan perguruan tinggi masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius," kata Sabbardi, dalam pernyataan di Semarang, Kamis.
Menurut dia, bentuk kekerasan tidak hanya berupa fisik dan seksual, tetapi juga perundungan, intimidasi, diskriminasi, serta kekerasan verbal yang dapat terjadi dalam berbagai interaksi akademik maupun kehidupan sosial mahasiswa.
Oleh karena itu, keberadaan regulasi dan mekanisme penanganan kasus merupakan bagian penting dalam upaya perlindungan warga kampus.
Namun, kata dia, pencegahan kekerasan juga membutuhkan pendekatan pendidikan yang mampu membangun pemahaman, kesadaran, dan tanggung jawab mahasiswa secara berkelanjutan.
Upaya pencegahan kekerasan di perguruan tinggi tidak harus selalu dilakukan melalui seminar, sosialisasi, atau kampanye khusus.
Edukasi mengenai kekerasan, lanjut dia, termasuk kekerasan seksual, juga dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang menjadi mata kuliah wajib bagi mahasiswa.
Gagasan tersebut yang melatarbelakanginya mengembangkan BukuAjar.ID, sebuah inovasi buku ajar digital yang memadukan kompetensi literasi akademik, pendekatan Outcome-Based Education (OBE), serta wawasan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) di perguruan tinggi.
Inovasi tersebut menjadi fokus disertasi Sabbardi yang akan dipertahankan dalam Ujian Promosi Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa di Universitas Negeri Semarang (Unnes), Jumat (23/10) besok.
Bahkan, ujian doktor tersebut dijadwalkan menghadirkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Muβti sebagai penguji eksternal.
Dalam penelitiannya, Sabbardi memandang bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki posisi strategis untuk mendukung tujuan tersebut.
Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga berkaitan dengan pembentukan cara berpikir, hubungan sosial, dan sikap seseorang terhadap orang lain.
Penggunaan bahasa dapat menjadi sarana membangun komunikasi yang menghormati martabat manusia, dan sebaliknya bahasa juga dapat digunakan untuk merendahkan, mendiskriminasi, melecehkan, atau menormalisasi kekerasan.
Melalui BukuAjar.ID, mahasiswa diajak mempelajari bahasa Indonesia dengan materi yang berkaitan dengan kehidupan nyata di perguruan tinggi, mencakup analisis teks, kajian pemberitaan kekerasan seksual, identifikasi bahasa diskriminatif, dan sebagainya.
Buku tersebut juga telah diujikan pada 191 mahasiswa di enam perguruan tinggi di Jawa Tengah dan DIY, seperti Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.
"Hasil penelitian menunjukkan peningkatan nilai rata-rata hasil belajar mahasiswa dari 69,26 sebelum penggunaan buku ajar menjadi 82,01 setelah pembelajaran, atau meningkat sebesar 12,75 poin," katanya.