Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
Pastikan tidak terdapat retakan, kebocoran, atau perubahan bentuk pada bagian luar aki. Perhatikan pula terminal aki dari kemungkinan korosi dan sambungan yang longgar.
2. Ukur tegangan menggunakan multimeter
Pemeriksaan dapat dilakukan ketika mesin mati dan kendaraan dalam kondisi istirahat. Pada aki timbal-asam 12 volt, tegangan sekitar 12,6–12,8 volt umumnya menunjukkan kondisi terisi penuh. Tegangan yang lebih rendah perlu ditafsirkan bersama hasil pemeriksaan lainnya.
Tes ini digunakan untuk mengetahui kemampuan aki menghasilkan arus listrik ketika mendapat beban, termasuk saat mesin distarter. Pemeriksaan dapat dilakukan menggunakan alat penguji aki oleh teknisi.
4. Periksa sistem pengisian kendaraan
Jika aki terus kehilangan daya, alternator dan komponen kelistrikan perlu diperiksa. Aki yang sehat sekalipun dapat kembali soak apabila sistem pengisian mengalami gangguan.
5. Lakukan pengisian ulang dan pemeriksaan kembali
Jika hasil awal menunjukkan daya rendah tetapi kondisi aki masih memungkinkan untuk dipulihkan, teknisi dapat melakukan pengisian menggunakan alat yang sesuai. Setelah itu, aki diuji kembali untuk memastikan kemampuannya menyimpan daya.
Pemeriksaan tersebut penting karena hasil pengukuran tegangan tidak selalu menggambarkan kesehatan aki secara keseluruhan. Aki bisa menunjukkan tegangan yang terlihat normal, tetapi tidak mampu menghasilkan arus yang cukup ketika digunakan untuk menyalakan mesin.
Apakah aki yang sudah dicas bisa soak kembali?
Aki yang sudah dicas dapat kembali soak apabila terdapat masalah pada kondisi internal maupun sistem kelistrikan kendaraan.
Salah satu penyebabnya adalah proses sulfasi, yaitu terbentuknya kristal timbal sulfat pada pelat aki akibat kondisi pengisian yang terlalu rendah dalam waktu lama. Jika berlangsung terus-menerus, proses tersebut dapat mengurangi kemampuan aki menerima dan menyimpan daya.
Selain itu, gangguan alternator, kebocoran arus listrik, terminal yang kotor, serta kebiasaan membiarkan mobil terlalu lama tidak digunakan juga dapat menyebabkan aki kembali kehilangan daya.
Karena itu, apabila aki kembali soak dalam waktu singkat setelah dicas, pemilik kendaraan sebaiknya tidak langsung mengulang proses pengisian. Periksa terlebih dahulu sumber masalahnya agar kerusakan tidak terus berulang.
Selain mengetahui kapan aki perlu dicas atau diganti, pemilik kendaraan juga dapat melakukan sejumlah langkah untuk menjaga usia pakainya.
1. Gunakan mobil secara berkala agar aki tidak terlalu lama berada dalam kondisi diam. 2. Pastikan lampu dan perangkat elektronik dimatikan sebelum meninggalkan kendaraan. 3. Periksa kebersihan terminal aki dan pastikan sambungannya tidak longgar. 4. Hindari memasang aksesori kelistrikan tambahan yang melebihi kemampuan sistem kendaraan. 5. Periksa kondisi aki secara berkala, terutama ketika usia pemakaian sudah memasuki tiga tahun. 6. Pastikan sistem pengisian atau alternator bekerja dengan baik. 7. Gunakan jenis aki yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan kendaraan.
Pemilik mobil juga perlu memperhatikan jenis aki yang digunakan. Kendaraan dengan sistem start-stop, misalnya, dapat membutuhkan aki berteknologi AGM atau EFB. Penggantian sebaiknya menggunakan jenis dan spesifikasi yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan.
Aki mobil yang soak tidak selalu harus langsung diganti. Jika masalahnya hanya kekurangan daya dan kondisi internal aki masih baik, pengisian ulang dapat menjadi solusi.
Sebaliknya, aki yang sudah tidak mampu menyimpan daya, mengalami kerusakan sel, atau memiliki kondisi fisik yang rusak sebaiknya diganti. Pemeriksaan kesehatan aki dan sistem pengisian kendaraan diperlukan agar keputusan tersebut tidak hanya berdasarkan perkiraan.
Dengan mengetahui perbedaan aki yang sekadar kehabisan daya dan aki yang sudah rusak, pemilik kendaraan dapat menentukan penanganan yang lebih tepat sekaligus menghindari pengeluaran yang tidak diperlukan.