NADIKABAR.COM — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi menekankan pentingnya akses komunikasi melalui bahasa isyarat sebagai bagian dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak penyandang disabilitas.
"Bahasa isyarat merupakan bahasa yang memungkinkan seseorang membangun relasi, memperoleh informasi, belajar, mengekspresikan diri, menyampaikan pendapat, mengambil keputusan mengenai dirinya, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Bagi anak penyandang disabilitas tuli, akses terhadap komunikasi bukan sekadar persoalan teknis, tetapi merupakan bagian dari pemenuhan hak anak," kata Menteri PPPA Arifah Fauzi dalam keterangan di Jakarta, Kamis.
Hal itu dikatakannya dalam kegiatan Kampanye Hari Bahasa Isyarat Internasional Tahun 2026.
Menurut dia, hambatan komunikasi dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan anak, mulai dari akses pendidikan dan informasi, interaksi sosial, hingga kemampuan menyampaikan kondisi yang dialami.
Ketika anak memiliki akses komunikasi yang baik, mereka dapat menyampaikan ketika merasa takut, tidak nyaman, sakit, mengalami perundungan, maupun ketika menghadapi kekerasan.
Untuk itu, KemenPPPA juga terus mendorong agar layanan perlindungan perempuan dan anak, termasuk SAPA 129, dapat diakses secara setara oleh perempuan dan anak penyandang disabilitas.
"Jangan sampai ada korban yang sebenarnya ingin berbicara tetapi tidak menemukan cara untuk menyampaikan pengaduannya. Jangan sampai ada anak yang mengalami kekerasan tetapi kesulitan menjelaskan apa yang dialaminya karena lingkungan di sekitarnya tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengannya", katanya.
Karena itu, layanan yang ramah disabilitas bukanlah layanan tambahan. Inklusivitas harus menjadi bagian dari kualitas layanan itu sendiri, kata Menteri Arifatul Choiri Fauzi.
Sementara Pengajar Bahasa Isyarat Indonesia dari Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) DKI Jakarta, Iwan Satriyawan Setyohadi, menjelaskan bahwa Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) merupakan bahasa alami komunitas tuli yang memiliki karakteristik kebahasaan dan tidak bersifat universal.
Pemahaman terhadap bahasa dan budaya tuli menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi yang inklusif.
"Dengan mempelajari bahasa isyarat, kita tidak hanya mendapatkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan teman tuli, tetapi juga belajar memahami budaya tuli dan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif. Bahasa isyarat dapat menjadi jembatan agar komunikasi antara teman tuli dan masyarakat luas dapat berlangsung dengan lebih baik," ujar Iwan.