NADIKABAR.COM — Keterbukaan sering dianggap sebagai salah satu kunci hubungan romantis yang sehat. Namun, membagikan seluruh pikiran dan pengalaman pribadi kepada pasangan ternyata tidak selalu memperkuat keintiman. Hubungan juga membutuhkan ruang privasi dan batasan pribadi.
Profesor filsafat sekaligus mantan Presiden Universitas Haifa, Aaron Ben-Ze’ev, Ph.D, dalam laman Psychology Today pada Sabtu (31/10), menjelaskan bahwa pasangan dapat memiliki hubungan yang dekat tanpa harus mengungkapkan seluruh kehidupan pribadinya.
Menurut Ben-Ze’ev, pandangan romantis yang menganggap pasangan sebagai dua individu yang harus selalu menyatu dapat membuat keterbukaan dipahami secara berlebihan. Padahal, setiap orang tetap memiliki identitas, keinginan, ingatan, dan pemikiran pribadi.
Ia menjelaskan bahwa keintiman memang membutuhkan keterbukaan dan kesediaan untuk berbagi informasi personal. Namun, hal tersebut tidak berarti seseorang harus menghilangkan seluruh batas privasinya.
Keterbukaan tanpa pertimbangan juga berpotensi menyakiti pasangan. Mengungkapkan setiap pikiran yang muncul, termasuk fantasi sesaat atau kekesalan sementara, belum tentu memberikan manfaat bagi hubungan.
Ben-Ze’ev mengatakan keintiman yang sehat melibatkan kemampuan memahami informasi apa yang perlu disampaikan, kapan waktu yang tepat untuk membicarakannya, serta hal-hal yang sebaiknya tetap menjadi urusan pribadi.
Ia juga membedakan privasi dan kerahasiaan dalam hubungan. Privasi berkaitan dengan hak seseorang untuk memiliki ruang pribadi dan menjaga batasan, sedangkan kerahasiaan dapat menyangkut informasi yang sengaja disembunyikan dari pasangan meskipun pasangan tersebut memiliki alasan yang wajar untuk mengetahuinya.
Mengutip penelitian Christian Klesse dan Jenn van Hooff pada 2025 yang diterbitkan dalam jurnal The Sociological Review, Ben-Ze’ev menjelaskan bahwa kerahasiaan dalam hubungan intim memiliki konteks yang beragam. Namun, hal tersebut tidak berarti kebohongan atau pengkhianatan dapat dibenarkan.
Menurut dia, pasangan perlu menemukan keseimbangan antara keterbukaan dan privasi. Terlalu banyak keterbukaan dapat mengganggu otonomi pribadi, sedangkan terlalu banyak privasi juga berpotensi mengurangi keintiman.
Hubungan yang sehat, tulis Ben-Ze’ev, memungkinkan seseorang dikenal secara mendalam tanpa harus kehilangan ruang untuk tetap menjadi dirinya sendiri.
Penerjemah: Farika Nur Khotimah