NADIKABAR.COM — Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pendiri dan CEO perusahaan kecerdasan buatan Reka AI, Dani Yogatama, terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur Indonesia ke-120 melalui seleksi internasional di Montreal, Kanada.

Dani mendirikan Reka AI bersama sejumlah peneliti teknologi pada 2022 untuk mengembangkan model kecerdasan buatan (AI) multimodal yang mampu memproses berbagai jenis informasi, termasuk teks, gambar, audio, dan video.

"Fokus kami tetap jelas, membangun dan mengembangkan teknologi AI frontier untuk pasar global," kata Dani dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.

Endeavor Entrepreneur merupakan sebutan bagi pengusaha terpilih dalam jaringan Endeavor, organisasi kewirausahaan global yang menyediakan akses pendampingan, investor, dan kemitraan bisnis untuk membantu perusahaan berkembang ke pasar internasional.

Menurut Dani, keikutsertaan dalam jejaring Endeavor memberikan kesempatan bagi Reka untuk memperluas kemitraan bisnis serta memperoleh akses kepada mentor, pengusaha, dan investor dari berbagai negara.

Ia berharap jejaring tersebut dapat membantu pengembangan perusahaan sekaligus membuka peluang berbagi pengalaman dengan generasi berikutnya dari pelaku usaha teknologi.

Dani terpilih melalui International Selection Panel (ISP) Endeavor ke-109 yang berlangsung di Montreal pada 15–17 September 2026.

Berdasarkan pengumuman resmi Endeavor Global, panel tersebut memilih 19 pengusaha dari 10 perusahaan melalui proses penilaian terhadap potensi pertumbuhan usaha dan komitmen mereka berkontribusi kepada ekosistem kewirausahaan.

Reka AI memperoleh pendanaan sebesar 110 juta dolar AS atau sekitar Rp1,99 triliun pada 2025 dari sejumlah investor, termasuk NVIDIA dan Snowflake.

Pendanaan tersebut mengantarkan valuasi perusahaan melampaui 1 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp18,05 triliun.

Dalam pengembangan teknologi, Reka memiliki model AI bernama Reka Flash dengan 21 miliar parameter yang dirancang untuk mendukung pemrosesan berbagai jenis informasi dalam satu sistem.

Perusahaan tersebut juga mengembangkan Reka Vision untuk pencarian dan analisis informasi visual, serta Reka Research untuk membantu menjawab pertanyaan kompleks melalui penelusuran informasi dari web dan dokumen.

Selain itu, Reka mengembangkan teknologi Reka Quant untuk meningkatkan efisiensi penggunaan model AI, termasuk mengurangi kebutuhan komputasi ketika teknologi diterapkan dalam kegiatan usaha.

Dani mengatakan pengembangan model AI yang mampu bersaing secara global membutuhkan kombinasi riset, tenaga ahli, infrastruktur komputasi, dan kemampuan menerapkan teknologi untuk kebutuhan industri.

"Kami ingin membangun teknologi yang bukan hanya kuat secara riset, tetapi juga efisien dan dapat digunakan perusahaan di berbagai industri," ujar dia.

Dani merupakan lulusan ITB yang kemudian melanjutkan pendidikan di University of Tokyo, Jepang, sebelum memperoleh gelar doktor bidang ilmu komputer dari Carnegie Mellon University, Amerika Serikat.

Sebelum mendirikan Reka, ia bekerja di Baidu Silicon Valley AI Lab dan menghabiskan sekitar enam tahun sebagai peneliti senior di Google DeepMind, London.

Managing Director Endeavor Indonesia Monika Rudijono menilai keberhasilan Dani membangun perusahaan AI berskala global menunjukkan potensi talenta Indonesia untuk berperan dalam pengembangan teknologi, bukan hanya sebagai pengguna.

"Indonesia tidak kekurangan talenta AI kelas dunia. Yang selama ini kurang adalah jalur bagi talenta itu untuk membangun perusahaan global dan tetap terhubung ke ekosistem asalnya," kata Monika.

Menurut dia, terpilihnya Dani memperluas representasi pengusaha teknologi dalam jejaring Endeavor Indonesia, yang sebelumnya banyak berasal dari sektor konsumen, teknologi finansial, dan logistik.

Perkembangan tersebut sejalan dengan arah penguatan industri digital nasional. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) pada 6 Oktober 2026 menyatakan Indonesia perlu berkembang dari pasar digital menjadi basis produksi, inovasi, dan investasi teknologi di kawasan Asia Tenggara.

Dalam pengembangan sumber daya manusia, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Komdigi bersama ASEAN Foundation juga menjalankan program AI Ready ASEAN yang pada fase kedua di Indonesia menargetkan 250.000 peserta untuk memperluas literasi dan pemanfaatan AI.

Pada 19 Oktober 2026, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menekankan pentingnya pengembangan AI yang selaras dengan kapasitas sumber daya manusia, ketersediaan infrastruktur, dan perlindungan masyarakat.