Kasus Baby Soso sekaligus kembali mengangkat persoalan sharenting, istilah untuk kebiasaan orang tua membagikan foto, video, maupun informasi mengenai anak di internet.

Persoalannya bukan sekadar apakah wajah seorang anak boleh diperlihatkan. Begitu foto atau video masuk ke internet dan disalin pengguna lain, orang tua semakin sulit mengendalikan bagaimana konten tersebut disimpan, diedit, atau disebarkan.

Risikonya menjadi lebih kompleks di era kecerdasan buatan (AI). Foto yang tersedia secara online dapat dimanipulasi menjadi konten palsu atau deepfake dan dikombinasikan dengan informasi lain mengenai seorang anak.

Penelitian Kaspersky bersama Singapore Institute of Technology sebelumnya juga menyoroti risiko sharenting. Informasi mengenai anak yang dibagikan di internet dapat membentuk jejak digital sejak usia sangat dini dan berpotensi mengungkap informasi pribadi.

"Berbagi momen keluarga secara daring memang dapat menciptakan koneksi dan dukungan, tetapi juga dapat mengekspos anak-anak pada risiko yang sering kali tidak terlihat seperti profiling, pelacakan yang tidak diinginkan, dan penyalahgunaan informasi pribadi," ujar Jiow Hee Jhee, Wakil Direktur Academy of Learning and Teaching SIT.

Karena itu, orang tua disarankan mempertimbangkan informasi apa yang dibagikan, membatasi audiens, mematikan geotag pada unggahan, serta menghindari menampilkan informasi sensitif seperti alamat rumah dan sekolah.