Sebelumnya di bulan September, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menegaskan bahwa Korea Selatan tidak akan mengerahkan pasukan yang dapat berujung pada intervensi militer. "Kami telah menjunjung tinggi prinsip non-keterlibatan dan non-intervensi dalam perang hingga saat ini," katanya. "Kami akan terus menjunjung tinggi prinsip tersebut ke depannya," tegas Presiden seperti dikutip dari AFP.

Korsel turut mempertimbangkan untuk mempertimbangkan peran yang lebih besar menjaga keamanan pelayaran di kawasan setelah sebelumnya, pada Agustus lalu Presiden AS Donald Trump mengkritik sekutunya itu tidak memberikan cukup dukungan dalam perang melawan Iran dan berencana mengurangi skala latihan militer gabungan besar-besaran antara angkatan bersenjata kedua negara, sebuah langkah yang membuat Seoul merasa tidak nyaman.

Awal September, Teheran memperingatkan Korea Selatan agar tidak melakukan pengerahan patroli maritim, saat Seoul tengah mempertimbangkan kontribusinya terhadap keamanan jalur perairan tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dalam postingannya di X mengatakan bahwa hubungan yang terjalin selama 64 tahun Iran-Republik Korea, terjalin atas dasar saling menghormati, Iran sangat menghargai relasinya dengan Korsel, "Namun partisipasi operasional atau kehadiran militer pihak lain di Teluk Persia dan Selat Hormuz akan dianggap sebagai dukungan langsung terhadap pihak yang melakukan agresi dan akan menimbulkan konsekuensi serius."