NADIKABAR.COM β€” Korea Selatan pada Kamis (5/11) mengumumkan bahwa pihaknya mengerahkan patroli maritim dan tim penjinak bahan peledak menuju perairan dekat Hormuz untuk menjaga jalur pelayaran tetap terbuka.

Perang AS-Iran yang dimulai pada 28 Februari telah mengganggu jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima dari minyak dunia.

Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengkonfirmasi bahwa pemerintah berencana memperluas wilayah operasional unit angkatan laut anti pembajakan, Cheonghae, yang melindungi kapal-kapal komersial dari Teluk Aden di lepas pantai Somalia ke perairan dekat pelabuhan Duqm di Oman, yang berjarak 650 km dari Selat Hormuz.

Unit Cheonghae telah ditempatkan di Teluk β€ŒAden sejak 2009 untuk memastikan navigasi yang aman bagi kapal-kapal komersial. Menurut stasiun televisi YTN, unit tersebut terdiri dari β€Œkapal perusak kelas 4.400 ton, sebuah helikopter operasi maritim, dan melibatkan sekitar 300 anggota militer.

Penempatan lebih lanjut misi tersebut di sekitar Hormuz, mengutip kantor berita Yonhap News Agency, akan turut melibatkan kapal perusak kelas, pesawat patroli maritim P-8 beserta 75 personel unit, tim penjinak bahan peledak (EOD), kapal nirawak, kapal selam nirawak, serta kendaraan kendali jarak jauh (ROV) untuk eksplorasi bawah laut.

Perpanjangan penugasan unit Cheonghae memerlukan persetujuan parlemen. Sebelumnya unit ini disetujui beroperasi hingga akhir tahun 2026, tulis kantor berita tersebut.

"Penguatan misi Unit Cheonghae ini bertujuan untuk melindungi warga negara dan menjaga kepentingan ekonomi kita," kata seorang pejabat Kementerian Pertahanan kepada wartawan, yang ingin identitasnya tidak disebutkan.

Lebih lanjut pejabat tersebut menyebut bahwa penguatan misi ini semata-mata untuk tujuan non-tempur dan unit tersebut akan melanjutkan beroperasi secara independen dari pasukan sekutu. "Operasi akan tetap dibatasi di perairan terbuka di selatan Oman, dan pesawat patroli maritim dilarang menargetkan atau memantau wilayah daratan Iran, perairan teritorial, atau bagian dalam Selat Hormuz selama misi mereka," tambah pejabat kementerian tersebut.

Korea Selatan sangat bergantung pada impor minyak dan memperoleh 70% pasokannya dari Timur Tengah pada tahun 2025, sebagian besar dikirim melalui Selat Hormuz, menurut Kementerian Perindustrian Korea Selatan.

Pengumuman tersebut muncul di tengah sikap Korsel yang menegaskan bahwa negara tersebut tidak akan mengerahkan pasukan untuk campur tangan secara militer dalam perang Iran, namun ingin terus berupaya melindungi pelayaran komersial dan pasokan energi melalui salah satu titik krusial maritim terpenting di dunia.

Sebelumnya di bulan September, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menegaskan bahwa Korea Selatan tidak akan mengerahkan pasukan yang dapat berujung pada intervensi militer. "Kami telah menjunjung tinggi prinsip non-keterlibatan dan non-intervensi dalam perang hingga saat ini," katanya. "Kami akan terus menjunjung tinggi prinsip tersebut ke depannya," tegas Presiden seperti dikutip dari AFP.

Korsel turut mempertimbangkan untuk mempertimbangkan peran yang lebih besar menjaga keamanan pelayaran di kawasan setelah sebelumnya, pada Agustus lalu Presiden AS Donald Trump mengkritik sekutunya itu tidak memberikan cukup dukungan dalam perang melawan Iran dan berencana mengurangi skala latihan militer gabungan besar-besaran antara angkatan bersenjata kedua negara, sebuah langkah yang membuat Seoul merasa tidak nyaman.

Awal September, Teheran memperingatkan Korea Selatan agar tidak melakukan pengerahan patroli maritim, saat Seoul tengah mempertimbangkan kontribusinya terhadap keamanan jalur perairan tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dalam postingannya di X mengatakan bahwa hubungan yang terjalin selama 64 tahun Iran-Republik Korea, terjalin atas dasar saling menghormati, Iran sangat menghargai relasinya dengan Korsel, "Namun partisipasi operasional atau kehadiran militer pihak lain di Teluk Persia dan Selat Hormuz akan dianggap sebagai dukungan langsung terhadap pihak yang melakukan agresi dan akan menimbulkan konsekuensi serius."