Dari sisi sumber daya, data terbaru Joint Ore Reserves Committee (JORC) per 30 Juni 2026 menunjukkan cadangan bijih Batu Hijau mencapai 777 juta ton. Angka tersebut meningkat dari 705 juta ton per 31 Desember 2024.

Cadangan bijih Elang juga meningkat menjadi 2,58 miliar ton, dibandingkan 2,52 miliar ton pada akhir 2024. AMMN menargetkan proyek Elang memasuki tahap Final Investment Decision (FID) pada 2027, sementara produksi bijih pertama diperkirakan berlangsung sekitar 2031 atau 2032. Dalam pengembangannya, perseroan berencana memanfaatkan sebagian besar infrastruktur yang sudah tersedia.

BYAN mendapat persetujuan Kementerian ESDM terkait perubahan RKAB untuk tiga anak usahanya. Melalui persetujuan tersebut, BYAN memperoleh tambahan kuota produksi batu bara sekitar 15 juta hingga 20 juta ton.

Persetujuan perubahan RKAB ini menjadi perkembangan penting bagi rencana produksi perseroan. Sebelumnya, belum terbitnya RKAB sempat menimbulkan keterbatasan produksi dan membuat BYAN menyampaikan pemberitahuan force majeure.

Tambahan kuota tersebut juga berkaitan dengan proyeksi volume produksi 2026. Moody's sebelumnya memperkirakan produksi BYAN hanya sekitar 39 juta ton pada 2026 apabila perubahan kuota tidak disetujui. Sebagai pembanding, produksi perseroan pada 2025 berada di kisaran 68 juta ton.

Di sisi lain, rencana PT Jhonlin Baratama untuk mengakuisisi 10 miliar saham BYAN atau sekitar 30% kepemilikan masih menunggu persetujuan Kementerian ESDM.

Hal tersebut berkaitan dengan ketentuan UU No. 3/2020 dan PP No. 96/2021 yang mengatur bahwa pemegang IUP/IUPK tidak dapat mengalihkan kepemilikan saham tanpa izin dari menteri.

IFII tengah menetapkan dividen tunai interim tahun buku 2026 sebesar Rp5 per saham. Total dividen yang akan dibagikan mencapai sekitar Rp47,06 miliar.

Keputusan tersebut sejalan dengan catatan laba periode berjalan IFII sebesar Rp78,12 miliar pada semester I 2026. Per 30 Juni 2026, perseroan memiliki saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya sebesar Rp453,72 miliar dengan total ekuitas mencapai Rp1,41 triliun.

Dengan nilai dividen tersebut, dividend payout ratio IFII mencapai 60,24% dari laba periode berjalan semester I 2026.

Sementara itu, saham IFII pada perdagangan Senin (21/9) ditutup di level Rp212 per saham, naik 0,95%. Berdasarkan harga tersebut, dividen interim Rp5 per saham setara dengan dividend yield 2,36%.

Investor yang tercatat berhak atas dividen untuk pasar reguler dan negosiasi harus tercatat hingga cum date pada 28 September 2026. Pembayaran dividen dijadwalkan pada 15 Oktober 2026.