NADIKABAR.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatat penguatan pada perdagangan Kamis (22/10). IHSG naik 1,12% ke level 5.387,90.
Kenaikan indeks ditopang sejumlah saham unggulan. BBRI naik 3,20%, BMRI menguat 4,05%, dan AMMN melonjak 5,61%. Sementara itu, BBCA turun 1,90%, ASII terkoreksi 2,41%, dan MORA melemah 6,92%.
Meski IHSG naik, investor asing masih melakukan penjualan bersih. Nilainya mencapai Rp1,47 triliun di pasar reguler dan Rp1,49 triliun jika dihitung di seluruh pasar.
Dari 11 sektor yang diperdagangkan, 10 sektor ditutup menguat. Sektor Energy menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 1,88%. Sebaliknya, sektor Technology turun 0,66% dan menjadi satu-satunya sektor yang berakhir di zona merah.
Bursa saham Amerika Serikat bergerak beragam. Dow Jones nyaris tidak berubah dengan kenaikan 0,02% ke 52.867. S&P 500 turun 1,21% ke 7.663, sedangkan Nasdaq melemah 2,60% ke 26.008.
Pelaku pasar juga mencermati penerapan aturan HSC yang akan berlaku mulai 2 November 2026. Aturan tersebut mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari penghitungan IHSG.
Kebijakan ini dinilai dapat membuat IHSG lebih merepresentasikan kondisi pasar serta meningkatkan transparansi dan kepercayaan terhadap integritas pasar modal Indonesia. Sentimen tersebut turut tercermin dari kenaikan ETF EIDO sebesar 0,95% dan indeks MSCI Indonesia sebesar 1,02%.
ASSA mendapatkan fasilitas kredit investasi dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp500 miliar.
Fasilitas tersebut akan digunakan untuk membeli kendaraan yang nantinya disewakan kepada pelanggan. Langkah ini menjadi bagian dari ekspansi armada ASSA dengan dukungan pembiayaan perbankan.
Sebelumnya, ASSA juga telah menambah fasilitas dari PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) menjadi Rp100 miliar.
Ekspansi tersebut berjalan seiring pertumbuhan bisnis utama perseroan. Pendapatan rental pada semester I 2026 naik 6,50% secara tahunan menjadi Rp1,04 triliun. Pendapatan bisnis logistik juga tumbuh 13,10% menjadi Rp1,35 triliun.
Secara total, pendapatan ASSA mencapai Rp3,06 triliun atau tumbuh 8,05%. Namun, laba bersih justru turun 2,11% menjadi Rp200,92 miliar.
Tekanan laba terjadi karena ekspansi armada meningkatkan beban bunga dan penyusutan. Pinjaman bank ASSA tercatat Rp4,19 triliun, sekitar 1,23 kali dari ekuitas perseroan yang mencapai Rp3,40 triliun.
Di sisi lain, bisnis long-term rental membuka ruang bagi ASSA untuk mengembangkan penggunaan kendaraan listrik atau EV, terutama pada pelanggan korporasi.
TOBA mendapatkan investasi strategis dari HPS Investment Partners dengan nilai maksimal SGD555 juta atau sekitar Rp7,79 triliun.
Investasi tersebut akan disalurkan secara bertahap kepada SBTH Asia Holdings, anak usaha yang menaungi bisnis pengelolaan limbah TOBA.
Modal baru tersebut berasal dari penerbitan saham preferen dan akan digunakan untuk ekspansi bisnis pengelolaan limbah TOBA di kawasan Asia.
Meski ada investor baru, TOBA tetap mempertahankan kendali atas SBTH. Dengan demikian, bisnis pengelolaan limbah tersebut tetap dikonsolidasikan penuh oleh TOBA.
SBTH menaungi tiga perusahaan operasional, yaitu Cora Environment, Asia Medical Enviro Services, dan PT Arah Environmental Indonesia. Ketiganya secara bersama-sama mengumpulkan sekitar 760.000 ton limbah pada semester I 2026.
Transaksi tersebut belum final dan masih menunggu persetujuan pemegang saham TOBA melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
AMMN menyiapkan dana hingga Rp1 triliun untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback.
Aksi tersebut akan dilakukan tanpa RUPS dalam kondisi pasar yang mengalami fluktuasi signifikan. Dana yang digunakan berasal dari kas internal perseroan.
Berdasarkan harga saham saat ini, jumlah saham yang akan dibeli kembali diperkirakan maksimal sekitar 0,37% dari modal ditempatkan dan disetor AMMN.
Secara proforma, buyback ini akan menurunkan total aset Perseroan dari USD 13.87bn menjadi USD 13.82bn dan total ekuitas dari USD 5.43bn menjadi USD 5.38bn.
Pelaksanaan buyback dilakukan melalui PT BCA Sekuritas pada 22 Oktober 2026 hingga 22 Januari 2027. Aksi tersebut mengacu pada POJK 13/2023 juncto Surat OJK No. S-112/D.04/2026.
TLKM - Buy 2170-2200 | TP 2230-2280 | SL 2050
PTBA - Buy 3150-3180 | TP 3210-3250 | SL 3030
DMAS - Buy 214-218 | TP 222-228 | SL 202
TINS - Buy 3810-3840 | TP 3920-3960 | SL 3620
MEDC - Buy 1435-1450 | TP 1470-1500 | SL 1365
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.