Sejak 2019, Anak Krakatau memasuki fase rekonstruksi dan pertumbuhan kembali. Aktivitas yang awalnya masih banyak dipengaruhi interaksi magma dengan air laut kemudian berkembang menjadi erupsi Strombolian, lava fountain, hingga aliran lava.
Material yang dihasilkan dari aktivitas tersebut menumpuk di dalam kawah pascakolaps dan secara perlahan membentuk kerucut baru.
"Setelah kolaps, Anak Krakatau memasuki fase pembangunan kembali. Aktivitas berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air menuju Strombolian, lava fountain, dan aliran lava, yang secara bertahap membangun kerucut baru di dalam kawah pascakolaps," kata Dini.
Salah satu proses pertumbuhan tersebut terlihat dari pembentukan lava pada 2020. Lava baru kemudian menumpuk di atas material hasil aktivitas vulkanik setelah keruntuhan.
Perubahan morfologi itu terlihat dalam perbandingan kondisi Anak Krakatau pada 2013, 2019, 2020, dan 2021. Kerucut yang sebelumnya relatif tinggi berubah menjadi bentuk lebih rendah dan terbuka setelah keruntuhan, sebelum kembali mengalami pembangunan akibat aktivitas erupsi berikutnya.
Proses membangun kembali tubuh gunung sebenarnya merupakan bagian dari sejarah panjang Anak Krakatau. Gunung api tersebut mulai muncul dari dasar laut pada 1927 sebagai bagian dari pembangunan kembali sistem gunung api setelah Krakatau runtuh akibat erupsi besar pada 1883. Pada fase awal, pusat erupsi berada di bawah atau sangat dekat dengan permukaan laut.
Interaksi magma panas dengan air laut menghasilkan erupsi Surtseyan yang menghasilkan ledakan uap, abu, dan material vulkanik. Material tersebut terus menumpuk hingga Anak Krakatau akhirnya muncul secara permanen di atas permukaan laut pada Agustus 1930.