Pertumbuhan kemudian berlanjut selama puluhan tahun. Pada periode 1930-1959, aktivitas didominasi erupsi freatomagmatik akibat interaksi magma dan air.
Memasuki periode 1959-2018, ketika kawah semakin terisolasi dari laut, aktivitas berubah menjadi lebih dominan Strombolian-Vulcanian dan efusif. Letusan menghasilkan material pijar, bom vulkanik, abu, serta aliran lava.
Akumulasi produk erupsi selama puluhan tahun membuat tubuh Anak Krakatau terus meninggi hingga mencapai sekitar 330 meter sebelum akhirnya mengalami keruntuhan pada 2018.
Siklus tersebut kini kembali terlihat dalam skala baru. Setelah kehilangan sebagian besar tubuhnya, Anak Krakatau kembali membangun kerucut melalui aktivitas vulkanik.
Dini mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan gunung api tidak dapat dilihat hanya dari satu peristiwa erupsi.
"Catatan erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bahwa perilaku gunung api tidak selalu tetap, tetapi dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya," tutur Dini.