NADIKABAR.COM — Analis ekonomi mendorong literasi finansial masyarakat untuk menghadapi jebakan pinjol yang meningkat saat daya beli lesu serta memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga agar mampu mengelola risiko keuangan di tengah tekanan.
Senior Analyst NEXT Indonesia Center Sandy Pramuji menilai ketergantungan masyarakat terhadap pinjaman online (pinjol) menunjukkan gejala yang semakin meresahkan, bahkan dapat menjadi peringatan dini bagi stabilitas ketahanan keuangan rumah tangga nasional.
"Sebab, penyaluran pinjol yang terus melonjak pesat, diiringi peningkatan signifikan pada angka gagal bayar atau rasio tunggakan di atas 90 hari (TWP90)," kata Sandy di Jakarta, Minggu.
Dia menyebutkan hasil riset terbaru NEXT Indonesia Center bertajuk "Waspadai Sinyal Tekanan Daya Beli" yang menganalisis data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Agustus 2026 mencatat, tingkat wanprestasi TWP90 pinjol naik ke angka 4,73 persen, dari posisi 4,32 persen pada Juli 2026.
Menurutnya, angka itu mengkhawatirkan karena bergerak mendekati ambang batas toleransi psikologis dan regulasi yang ditetapkan otoritas sebesar 5 persen.
"Padahal, pada saat bersamaan, outstanding pembiayaan pinjol mencapai Rp106,9 triliun atau tumbuh 22,07 persen dibandingkan Agustus tahun sebelumnya,” ujar Sandy.
Sandy menjelaskan kondisi itu menandakan ekspansi pembiayaan digital tidak lagi sepenuhnya didorong oleh kegiatan produktif atau kemampuan membayar yang sehat, melainkan sinyal keterpaksaan finansial di mana masyarakat memanfaatkan pinjol untuk menopang kebutuhan hidup harian.
Ia juga mengungkapkan tingginya angka penarikan pinjol yang beriringan dengan naiknya rasio kredit macet merupakan indikator kuat bahwa masyarakat sedang mengalami tekanan biaya hidup yang sangat berat.