"Meningkatnya angka gagal bayar pinjol hingga mendekati batas aman 5 persen ini bukan sekadar persoalan teknis industri fintech, melainkan sinyal riil bahwa ketahanan keuangan masyarakat bawah hingga menengah sedang berada dalam tekanan luar biasa," tutur Sandy.

Ia menambahkan masyarakat saat ini dihadapkan pada situasi pelik di mana pendapatan yang tidak bertambah makin tergerus oleh tingginya inflasi bahan pokok.

"Ketika tabungan menyusut dan harga beras terus meningkat, pinjol menjadi jalan pintas darurat yang sayangnya justru menjerat mereka dalam siklus utang," ungkapnya.

Selain dari meningkatnya angka pinjol, menurunnya kemampuan ekonomi masyarakat terlihat dari tergerusnya angka tabungan. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperlihatkan fenomena penurunan simpanan masyarakat bawah secara drastis selama 13 tahun terakhir.

Saldo rata-rata rekening simpanan di bawah Rp100 juta merosot hingga 61,52 persen, dari Rp4,34 juta pada Juli 2013 menjadi tinggal Rp1,67 juta per Juli 2026.

Tekanan finansial tersebut juga tercermin pada sektor perbankan konvensional. Pertumbuhan kredit konsumsi perbankan terus melambat ke angka 5,38 persen pada Juli 2026, turun drastis dari puncaknya sebesar 11,02 persen pada Oktober 2024.

Sebaliknya, porsi kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) kredit konsumsi bank justru melonjak menjadi 2,48 persen, bahkan melampaui level puncak masa pandemi COVID-19 pada Juli 2020 yang tercatat 2,29 persen. Kondisi ini menunjukkan tekanan pada kemampuan membayar sebagian peminjam.

Riset NEXT Indonesia Center juga menyoroti persepsi psikologis masyarakat konsumen yang kian meredup. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia menyusut dari 127,0 pada Januari 2026 menjadi 118,1 pada September 2026.