NADIKABAR.COM — Wakil Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Andre Rosiade, merasa prihatin saat melihat kondisi Gustina Putri Ningsih (26), perempuan yang telah terbaring tak sadarkan diri selama sekitar 10 tahun. Gustina dilaporkan mengalami kondisi tersebut setelah menjalani operasi usus buntu di sebuah rumah sakit di Padang.
Pertemuan itu terjadi secara tidak terduga pada Kamis (29/10).
Saat meninjau rumah warga yang direnovasi menggunakan dana pribadinya di kawasan Padang Sarai, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Andre dihampiri seorang anak laki-laki bernama Gustian Rasyid Syaka (11). Gustian kemudian memberanikan diri meminta Andre mengunjungi rumahnya untuk melihat kondisi sang kakak.
"Boleh kita lihat kakak saya, Pak?" pinta Gustian dalam keterangan tertulis, Kamis (29/10/2026).
Andre langsung merespons permintaan tersebut. Ia bersedia mendatangi rumah keluarga itu dan meminta Gustian mengikuti perjalanan menuju kediamannya.
Setibanya di rumah, Andre terkejut melihat Gustina terbaring lemah dan tidak sadarkan diri di ruang tamu.
Perempuan kelahiran 2 Agustus 2000 itu masih bergantung pada bantuan oksigen, sedangkan keluarganya hidup dalam keterbatasan ekonomi.
"Sakit apa ini?" tanya Andre saat melihat kondisi Gustina.
"Usus buntu, Pak. Kelebihan bius," jawab keluarga.
Andre kembali memastikan kondisi yang dialami Gustina.
"Jadi dia tidak sadar sampai sekarang? Sudah berapa lama?" tanya Andre.
"Astagfirullah," ujar Andre, menunjukkan keprihatinannya.
Menurut keterangan keluarga, kondisi Gustina mulai terjadi setelah ia menjalani operasi usus buntu sekitar 10 tahun lalu.
Keluarga menduga hal itu berkaitan dengan pemberian dosis obat bius yang berlebihan. Meski demikian, dugaan tersebut masih perlu dikonfirmasi melalui rekam medis dan keterangan tenaga kesehatan yang menangani Gustina.
Di tengah suasana haru tersebut, Andre juga menaruh perhatian kepada Gustian. Adik Gustiana itu baru berusia sekitar satu tahun ketika sang kakak mulai mengalami kondisi tersebut.
Selama bertahun-tahun, Gustian tumbuh tanpa bisa berkomunikasi dengan Gustina seperti halnya dengan anggota keluarga lainnya.
"Sayang kakak, ya," kata Andre kepada Gustian.
Ucapan Andre itu menggambarkan perhatian terhadap perjuangan seorang adik yang berusaha mencari pertolongan bagi kakaknya.
Meski masih berusia 11 tahun, Gustian memberanikan diri menghampiri Andre di tengah kunjungan bedah rumah. Ia berharap ada jalan bagi Gustina untuk memperoleh penanganan medis.
Andre kemudian memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp10 juta kepada keluarga Gustina. Ia juga menyampaikan rencana untuk membantu mengupayakan agar Gustina dibawa ke rumah sakit.
"Ini ada uang Rp10 juta, ya, untuk urus-urus kakak," kata Andre.
Ibu Gustina, Kartina (53), sempat mengungkapkan kesulitan keluarga dalam merawat anaknya. Membawa Gustina ke rumah sakit dan memenuhi kebutuhan sehari-hari bukan perkara mudah bagi keluarga dengan penghasilan terbatas.
Mendengar hal tersebut, Andre berusaha menenangkan Kartina.
"Ini tadi saya kasih Rp10 juta. Ini pegang sama Ibu, untuk biaya hidup. Nah, ini bawa ke rumah sakit, nanti kami urus. Jadi Ibu tenanglah," ujar Andre.
Andre juga meminta Kartina agar tetap tenang. Ia mengapresiasi keberanian Gustian yang datang meminta pertolongan demi kakaknya.
"Anak Ibu benar hebat," kata Andre didampingi Ketua Fraksi Gerindra DPRD Padang Wahyu Hidayat.
Kartina tak kuasa menahan haru. Ia berkali-kali menyampaikan terima kasih kepada Andre atas bantuan dan kepedulian yang diberikan kepada keluarganya.
"Terima kasih banyak, Pak Andre," ungkap Kartina dengan suara penuh haru.
Ayah Gustina, Saripudin (69), bekerja sebagai pelayan lepas dengan ikut bekerja kepada orang lain. Karena tidak memiliki pekerjaan tetap, penghasilannya bergantung pada ketersediaan pekerjaan.
Dari rumahnya, dia harus berjalan kaki ke pantai di Ulak Karang atau Air Tawar dan Tabing yang jaraknya belasan kilometer.
Sementara itu, Kartina berusaha membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan mencari sayur dan lokan. Kehidupan keluarga yang serba terbatas membuat perawatan Gustina menjadi beban berat yang harus mereka hadapi selama bertahun-tahun.
Keluarga tersebut tinggal di Komplek Asabri Blok B1 Nomor 17, RT 004/RW 002, Kelurahan Padang Sarai, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.
Di tengah keterbatasan ekonomi, mereka terus berusaha merawat Gustina dengan kemampuan yang ada.
Kunjungan Andre yang semula bertujuan meninjau bedah rumah warga akhirnya mempertemukannya dengan persoalan kemanusiaan yang membutuhkan perhatian.
Setelah mendengar permohonan Gustian, Andre datang melihat langsung kondisi Gustina, memberikan bantuan Rp10 juta, dan menyampaikan komitmen untuk membantu mengupayakan pengobatan ke rumah sakit.
Bagi Gustian dan kedua orang tuanya, perhatian tersebut bukan hanya tentang bantuan uang, melainkan juga harapan agar Gustina dapat memperoleh pemeriksaan dan perawatan medis yang lebih memadai setelah bertahun-tahun terbaring tak sadarkan diri.