NADIKABAR.COM — Anggota Komisi VII DPR RI Hendry Munief mendorong penguatan digitalisasi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dalam negeri pada era ekonomi digital saat ini agar dapat memperluas akses pasar, meningkatkan penjualan serta memperkuat daya saing produk lokal.

Menurutnya, digitalisasi menjadi salah satu aspek penting dalam meningkatkan daya saing UMKM. Pemanfaatan teknologi digital perlu diiringi pengembangan usaha, inovasi produk, peningkatan kapasitas pelaku usaha, serta perluasan akses pasar agar UMKM mampu tumbuh dan bersaing di pasar yang lebih luas.

"Berdasarkan data dari Kementerian UMKM, sebanyak 4.220 UMKM telah terdigitalisasi melalui program digitalisasi pemasaran Juragan UMKM per 24 September 2026. Sementara itu, 56,2 persen UMKM belum terintegrasi dengan ekonomi digital," katanya dalam keterangan diterima di Jakarta, Sabtu.

Perhatian terhadap UMKM tersebut ia sampaikan saat kunjungan kerja reses Komisi VII DPR mengenai arah kebijakan dan pemberdayaan UMKM serta kewirausahaan di Sulawesi Selatan, Jumat (9/10).

Dia mengatakan peluang untuk memperluas pemanfaatan teknologi digital oleh pelaku UMKM masih terbuka luas.

Dengan digitalisasi, diharapkan dapat membantu pelaku usaha memasarkan produk secara lebih efektif, menjangkau konsumen baru, serta membangun jaringan pemasaran yang tidak terbatas pada wilayah tempat usaha beroperasi.

Hendry mengutip data Google, Temasek, dan Bain yang mencatat bahwa nilai bruto ekonomi digital Indonesia atau gross merchandise value (GMV) mencapai 100 miliar dolar Amerika pada 2025.

"Perkembangan ini menjadi gambaran besarnya peluang pasar digital yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha, termasuk UMKM," ujarnya.

Selain digitalisasi pemasaran, kata dia, pengembangan kapasitas usaha dan inovasi produk menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing.

Pelaku UMKM membutuhkan pendampingan untuk meningkatkan kualitas produk, memperkuat identitas usaha, serta menyesuaikan produk dengan kebutuhan dan perkembangan pasar.

Dia mengatakan Kementerian UMKM juga menyoroti pentingnya perluasan akses pasar melalui fasilitasi pameran, festival, promosi usaha, dan business matching.

Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pembeli, mitra bisnis, distributor, serta perusahaan yang berpotensi mendukung pengembangan usaha.

Sementara itu, dalam pengembangan kemitraan, kata dia, Kementerian UMKM mendorong keterhubungan pelaku usaha dengan BUMN melalui Pasar Digital UMKM (PaDi UMKM), serta perusahaan swasta dan jaringan ritel modern.

Upaya tersebut diharapkan membuka kesempatan lebih besar bagi produk UMKM untuk memasuki pasar yang lebih luas.

"Tidak kalah pentingnya, Akses pasar internasional juga menjadi bagian dari strategi pengembangan UMKM," tegasnya.

"Fasilitasi kurasi produk, lokakarya mengenai regulasi luar negeri menjadi sejumlah bentuk dukungan yang disebut dalam materi untuk membantu usaha menengah yang berorientasi ekspor," tambahnya.

Hendry menambahkan pengembangan usaha turut diarahkan melalui peningkatan kapasitas, inkubasi, penguatan potensi unggulan daerah, dan pendampingan berkelanjutan sesuai kebutuhan pelaku UMKM.

Menurutnya, pendekatan ini penting agar digitalisasi dan perluasan pasar berjalan seiring dengan kesiapan usaha dalam memenuhi permintaan konsumen.

Dia berharap melalui penguatan digitalisasi, inovasi produk, pendampingan, dan kemitraan, UMKM memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan produktivitas serta memperluas jangkauan pemasaran.

Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi membangun ekosistem UMKM yang berdaya saing dan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.