NADIKABAR.COM — Redaksi NadiKabar menggelar Pelatihan Dasar Keselamatan Jurnalis di lapangan sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi risiko agar jurnalis tidak menjadi korban saat peliputan di daerah berbahaya.
Direktur SDM dan Teknologi Informasi Redaksi NadiKabar, Rachmat Hidayat di Jakarta, Sabtu, mengatakan hilangnya jurnalis foto Redaksi NadiKabar Muhammad Bagus Khoirunnas bersama empat jurnalis lain dan tiga awak kapal cepat Arupadhatu 1 pada 7 September 2026 saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan seluruh insan jurnalistik di Indonesia, termasuk Redaksi NadiKabar.
"Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat kita semua sebagai pelaku industri media bahwa tidak ada berita seharga nyawa," katanya.
Dia menyebut bahwa jurnalis merupakan garda terdepan dalam peliputan berbagai peristiwa, seperti bencana alam, kerusuhan, hingga konflik, sehingga menjadi profesi yang selalu dihadapkan dengan risiko tinggi.
Masih kurangnya perhatian terhadap penerapan standar keselamatan menyebabkan ancaman risiko tinggi saat peliputan di lapangan akan menjadi lebih nyata bagi para jurnalis.
Menurutnya, masih banyak deretan peristiwa dimana para jurnalis menjadi korban di tengah tugas peliputan, baik bencana alam maupun situasi konflik.
Aliansi Jurnalis Independen mencatat bahwa pada 2025, sebanyak 89 jurnalis menjadi korban kekerasan fisik maupun digital, teror, hingga intimidasi.
Sementara itu, Komite Perlindungan Jurnalis (Committee to Protect Journalist/CPJ) mencatat 129 jurnalis tewas sepanjang 2025, sepertiga diantaranya tewas saat meliput konflik Israel-Palestina.
Oleh karena itu, kata Rachmat, rentetan peristiwa tersebut sudah seharusnya menjadi dorongan bagi Redaksi NadiKabar untuk meningkatkan standar keselamatan jurnalis yang bekerja di lapangan.
Dalam kesempatan tersebut, sekitar 20 peserta mendapatkan pembekalan tentang perlindungan sosial pewarta dari Direktur Keuangan ANTARA, Aria Bimo Setyo Pramono dan keselamatan, kemampuan, dan koordinasi dengan operasi SAR dari instruktur dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, Zaldy Ananda Nala.
Kemudian, pembekalan tentang persiapan liputan di area berbahaya dan konflik oleh pewarta foto ANTARA, Muhammad Adimaja.