Tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan pada 2024 terhadap 55 penelitian dengan 41.716 peserta menemukan adanya hubungan antara penggunaan media elektronik dan kualitas tidur yang lebih buruk. Penggunaan smartphone secara umum juga menunjukkan hubungan dengan masalah tidur.

Konsensus National Sleep Foundation juga menelaah lebih dari 2.200 artikel sebelum menyusun kesimpulan mengenai hubungan penggunaan media berbasis layar dengan kesehatan tidur pada berbagai kelompok usia.

Terlalu lama menggunakan ponsel, terutama sambil duduk atau berbaring, dapat membuat waktu yang seharusnya digunakan untuk bergerak menjadi lebih sedikit. Jika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus, seseorang dapat memiliki pola hidup yang semakin sedentari.

WHO mencatat 31 persen orang dewasa di dunia dan 80 persen remaja belum memenuhi tingkat aktivitas fisik yang direkomendasikan. Tingginya perilaku sedentari pada orang dewasa juga dikaitkan dengan sejumlah dampak kesehatan, termasuk peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2.

Karena itu, penggunaan ponsel sebaiknya diselingi dengan jeda secara berkala. Pengguna dapat mengalihkan pandangan dari layar, mengubah posisi tubuh, berdiri, berjalan sebentar, serta memastikan aktivitas fisik tetap dilakukan setiap hari.

Dengan demikian, dampak tersebut tidak berarti penggunaan ponsel dalam jumlah tertentu secara otomatis menyebabkan penyakit. Risiko kesehatan dipengaruhi oleh durasi penggunaan, kebiasaan saat menggunakan perangkat, aktivitas fisik, waktu penggunaan terutama menjelang tidur, serta kondisi kesehatan masing-masing orang.