NADIKABAR.COM — Penggunaan ponsel atau smartphone sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, mulai dari bekerja, belajar, berkomunikasi hingga mencari hiburan.

Namun, kebiasaan menatap layar dalam waktu lama tanpa jeda dapat memberikan dampak terhadap kesehatan, terutama jika disertai posisi tubuh yang kurang baik dan berkurangnya aktivitas fisik.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut meningkatnya penggunaan perangkat digital menimbulkan perhatian terhadap kesehatan mata, termasuk digital eye strain dan mata kering.

WHO bersama International Telecommunication Union (ITU) bahkan mengembangkan standar global untuk mendorong penggunaan perangkat digital yang lebih aman bagi kesehatan mata.

Lantas, apa saja dampak kesehatan yang dapat muncul akibat terlalu lama menatap layar HP? Berikut penjelasannya.

Menatap layar dalam waktu lama dapat membuat mata terasa lelah, kering, perih, hingga mengalami pandangan kabur sementara. Saat berkonsentrasi pada layar, seseorang juga cenderung lebih jarang berkedip sehingga permukaan mata lebih mudah mengalami kekeringan.

American Academy of Ophthalmology menjelaskan bahwa penggunaan perangkat digital dalam waktu lama dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada mata. Keluhan tersebut umumnya bersifat sementara dan dapat berkurang setelah penggunaan perangkat dihentikan.

Untuk mengurangi keluhan, pengguna dapat menerapkan aturan 20-20-20, yakni setiap 20 menit mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau 6 meter selama sedikitnya 20 detik.

2. Sakit kepala dan ketegangan pada mata

Mata yang terus bekerja untuk mempertahankan fokus pada layar dapat menimbulkan rasa tidak nyaman yang kemudian disertai sakit kepala. Kondisi ini dapat semakin terasa ketika seseorang menggunakan ponsel dalam waktu lama, melihat layar dari jarak terlalu dekat, atau berada di ruangan dengan pencahayaan yang kurang sesuai.

Keluhan digital eye strain juga dapat berupa mata terasa tegang, sensitif terhadap cahaya, sulit mempertahankan fokus, hingga pandangan kabur. Karena itu, mengurangi durasi menatap layar dan memberikan waktu istirahat bagi mata menjadi bagian penting untuk mencegah keluhan berulang.

Kebiasaan menggunakan ponsel sambil menundukkan kepala dalam waktu lama dapat membuat otot leher dan bahu bekerja dalam posisi yang tidak ideal. Jika dilakukan berulang, kondisi tersebut dapat memicu rasa kaku atau nyeri pada leher, bahu hingga punggung.

Risiko tersebut juga berkaitan dengan kebiasaan duduk terlalu lama. WHO memasukkan penggunaan layar untuk pekerjaan, pendidikan dan rekreasi sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya perilaku sedentari.

Kebiasaan menggunakan ponsel menjelang tidur dapat membuat waktu tidur tertunda dan berpotensi mengganggu kualitas tidur. Penggunaan perangkat sebelum tidur juga dapat membuat seseorang terus terpapar konten yang merangsang perhatian sehingga lebih sulit beralih ke kondisi siap tidur.

Tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan pada 2024 terhadap 55 penelitian dengan 41.716 peserta menemukan adanya hubungan antara penggunaan media elektronik dan kualitas tidur yang lebih buruk. Penggunaan smartphone secara umum juga menunjukkan hubungan dengan masalah tidur.

Konsensus National Sleep Foundation juga menelaah lebih dari 2.200 artikel sebelum menyusun kesimpulan mengenai hubungan penggunaan media berbasis layar dengan kesehatan tidur pada berbagai kelompok usia.

Terlalu lama menggunakan ponsel, terutama sambil duduk atau berbaring, dapat membuat waktu yang seharusnya digunakan untuk bergerak menjadi lebih sedikit. Jika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus, seseorang dapat memiliki pola hidup yang semakin sedentari.

WHO mencatat 31 persen orang dewasa di dunia dan 80 persen remaja belum memenuhi tingkat aktivitas fisik yang direkomendasikan. Tingginya perilaku sedentari pada orang dewasa juga dikaitkan dengan sejumlah dampak kesehatan, termasuk peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2.

Karena itu, penggunaan ponsel sebaiknya diselingi dengan jeda secara berkala. Pengguna dapat mengalihkan pandangan dari layar, mengubah posisi tubuh, berdiri, berjalan sebentar, serta memastikan aktivitas fisik tetap dilakukan setiap hari.

Dengan demikian, dampak tersebut tidak berarti penggunaan ponsel dalam jumlah tertentu secara otomatis menyebabkan penyakit. Risiko kesehatan dipengaruhi oleh durasi penggunaan, kebiasaan saat menggunakan perangkat, aktivitas fisik, waktu penggunaan terutama menjelang tidur, serta kondisi kesehatan masing-masing orang.