NADIKABAR.COM — Abu vulkanik menjadi salah satu material yang dapat menyebar luas ketika gunung api mengalami erupsi. Partikelnya yang sangat halus dapat terbawa angin hingga jauh dari sumber letusan dan kemudian mengganggu kualitas udara di wilayah terdampak.

Lantas, apa sebenarnya abu vulkanik dan apakah material tersebut berbahaya bagi kesehatan? Berikut penjelasan mengenai pengertian, kandungan, bahaya, hingga cara mengurangi paparan abu vulkanik.

Menurut jurnal Universitas Banten Jaya berjudul "Pengaruh Debu Vulkanik pada Erupsi Gunung Berapi DIY terhadap Kesehatan Paru" yang ditulis Tri Agus Yuarsa, abu vulkanik merupakan material vulkanik yang terlontar ke udara ketika terjadi letusan gunung api.

Material tersebut terdiri dari batuan dengan berbagai ukuran, mulai dari bongkahan hingga partikel yang sangat halus. Partikel berukuran kecil dapat terbawa angin hingga ratusan bahkan ribuan kilometer, tergantung kondisi angin dan jenis erupsi.

Abu vulkanik berbeda dengan abu hasil pembakaran. Pan American Health Organization (PAHO/WHO) menjelaskan bahwa abu vulkanik pada dasarnya merupakan batuan yang telah mengalami penghancuran menjadi partikel sangat kecil. Abu tersebut dapat bersifat kasar, abrasif, dan dalam kondisi tertentu bersifat asam.

Abu vulkanik tersusun dari fragmen batuan halus, mineral, dan kaca vulkanik. Material ini memiliki sifat keras, kasar, agak korosif, serta tidak larut dalam air. Salah satu kandungan yang perlu diperhatikan adalah silika, termasuk kristal silika seperti kuarsa, kristobalit, dan tridimit.

Paparan silika dalam jumlah tinggi dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan silikosis, yaitu penyakit yang menyebabkan peradangan dan pembentukan jaringan parut pada paru-paru.

USGS (United States Geological Survey) atau Survei Geologi Amerika Serikat juga menjelaskan bahwa abu vulkanik dapat mengandung silika kristalin. Namun, dampak kesehatan sangat bergantung pada jenis abu, konsentrasi partikel di udara, serta tingkat dan lamanya paparan.

Selain partikel padat, erupsi gunung api juga dapat menghasilkan berbagai gas vulkanik. Beberapa di antaranya, seperti sulfur dioksida (SO₂), hidrogen sulfida (H₂S), nitrogen dioksida (NO₂), karbon monoksida (CO), dan amonia (NH₃).

Dampak abu vulkanik terhadap kesehatan terutama berkaitan dengan sistem pernapasan, mata, dan kulit. WHO menyebut erupsi gunung api dapat menyebabkan penyakit pernapasan akut maupun kronis akibat paparan abu dan gas, serta menyebabkan iritasi mata dan kulit.

Gangguan pernapasan akibat abu vulkanik dipengaruhi oleh konsentrasi partikel di udara, jumlah partikel yang terhirup, lama paparan, kondisi meteorologi, serta faktor individu. Beberapa gangguan kesehatan yang dapat muncul akibat terpapar abu vulkanik tim redaksi lain sebagai berikut.

Partikel abu yang terhirup dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan. Pada paparan tinggi, seseorang yang sebelumnya sehat dapat mengalami rasa tidak nyaman di dada, batuk, dan iritasi. Gejala jangka pendek lainnya dapat berupa iritasi hidung dan tenggorokan, pilek, batuk kering, serta rasa tidak nyaman bernapas.

Abu vulkanik dapat memperburuk gejala pada orang yang sudah memiliki gangguan pernapasan, termasuk asma. Paparan partikel halus dapat menyebabkan batuk, mengi, dan sesak napas.

CDC (Centers for Disease Control and Prevention) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit juga memasukkan penderita asma sebagai salah satu kelompok yang lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan ketika terpapar abu dan gas vulkanik.

Paparan abu vulkanik dapat menyebabkan gejala bronkitis akut, seperti batuk kering, produksi dahak, mengi, dan sesak napas. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh kesehatan individu dan kondisi lingkungan.

Paparan silika dalam jumlah tinggi dan dalam waktu lama dapat menyebabkan silikosis. Penyakit ini terjadi ketika debu silika terhirup dan memicu peradangan serta pembentukan jaringan parut pada paru-paru.

Namun, tidak berarti setiap paparan abu vulkanik otomatis menyebabkan silikosis. Risiko tersebut berkaitan dengan konsentrasi silika dan tingkat serta lamanya paparan. Risiko silikosis terutama menjadi perhatian pada paparan silika kristalin yang berat dan terus-menerus selama bertahun-tahun.

Tidak semua orang memiliki tingkat risiko yang sama ketika terpapar abu vulkanik. Kelompok rentan lebih mungkin mengalami masalah kesehatan akibat paparan abu dan gas vulkanik. Kelompok yang perlu lebih berhati-hati ketika terpapar abu vulkanik tim redaksi lain sebagai berikut.

Mengurangi paparan menjadi langkah penting ketika terjadi hujan abu. Salah satunya, penggunaan respirator N95 ketika berada di luar ruangan atau saat membersihkan abu di dalam rumah. Selain menggunakan pelindung pernapasan, beberapa langkah yang dapat dilakukan yaitu sebagai berikut.

Abu vulkanik dapat berdampak pada kesehatan, terutama jika terhirup dalam jumlah banyak atau dalam waktu lama. Masyarakat di wilayah terdampak sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan pelindung pernapasan untuk mengurangi paparan abu.