Wajah dapat menjadi salah satu bagian yang perlu diperiksa ketika melihat video atau foto yang dicurigai sebagai hasil manipulasi.
Beberapa tanda yang dapat diperhatikan antara lain kedipan mata yang terasa tidak wajar, bentuk wajah yang terlalu halus, warna kulit yang aneh, hingga batas antara rambut dan latar belakang yang terlihat tidak natural.
Meski begitu, tanda visual saja tidak cukup untuk memastikan sebuah konten merupakan deepfake. Kualitas kamera, pencahayaan, kompresi video, dan kondisi rekaman juga dapat membuat wajah terlihat tidak biasa.
Jangan hanya melihat isi foto atau video. Perhatikan juga siapa yang pertama kali mengunggahnya, kapan konten tersebut dibuat, serta apakah ada sumber terpercaya lain yang membahas kejadian yang sama.
Jika sebuah video memperlihatkan tokoh terkenal membuat pernyataan mengejutkan, jangan langsung menganggapnya benar hanya karena wajah dan suaranya terlihat meyakinkan. Cari pernyataan dari akun resmi atau media terpercaya untuk melihat apakah informasi tersebut benar.
Cara ini penting karena teknologi AI dapat membuat konten yang secara visual terlihat meyakinkan, sementara konteks di sekitarnya justru menunjukkan adanya kejanggalan.
4. Waspadai permintaan yang mendesak
Deepfake tidak hanya digunakan untuk membuat konten hiburan atau menyebarkan informasi palsu. Teknologi ini juga dapat digunakan sebagai bagian dari penipuan.
Misalnya, seseorang menerima panggilan video atau pesan suara yang tampak berasal dari keluarga, atasan, tokoh publik, atau pihak tertentu dan kemudian diminta segera mengirimkan uang atau informasi pribadi.