Dalam situasi seperti itu, jangan langsung mengikuti permintaan. Hubungi orang tersebut melalui nomor atau saluran komunikasi yang sudah diketahui benar untuk memastikan identitasnya.
FBI juga mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru memenuhi permintaan yang mencurigakan dan memberikan waktu untuk memeriksa informasi sebelum menyerahkan uang atau data pribadi.
5. Jangan mengandalkan mata dan telinga saja
Mengenali deepfake semakin sulit karena kualitas teknologi terus berkembang. Karena itu, satu tanda saja tidak cukup untuk menyimpulkan sebuah konten palsu.
Lembaga keamanan siber juga terus mengembangkan teknologi untuk mendeteksi media hasil manipulasi. National Institute of Standards and Technology (NIST), misalnya, sedang mengembangkan program evaluasi forensik untuk menguji teknologi pendeteksi deepfake dan media yang dibuat menggunakan AI.
Bagi pengguna internet, langkah paling aman adalah menggabungkan pemeriksaan visual, pengecekan sumber, pencarian informasi pembanding, dan sikap tidak terburu-buru mempercayai konten yang terlihat mengejutkan.
Deepfake pada dasarnya bukan selalu sesuatu yang buruk. Teknologi manipulasi digital dapat digunakan untuk kebutuhan kreatif, pendidikan, dan hiburan. Persoalan muncul ketika teknologi tersebut digunakan untuk menipu, menyebarkan informasi palsu, mencemarkan nama baik, atau merugikan orang lain.
Karena itu, ketika menemukan foto, video, atau suara yang terasa terlalu meyakinkan sekaligus mencurigakan, jangan langsung membagikannya. Luangkan waktu untuk memeriksa sumber dan konteksnya terlebih dahulu. Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, kemampuan memeriksa informasi menjadi semakin penting.