NADIKABAR.COM — Perkembangan kecerdasan buatan membuat pembuatan foto, suara, dan video menjadi semakin mudah. Di satu sisi, teknologi ini bisa digunakan untuk hiburan dan kebutuhan kreatif. Namun, di sisi lain, teknologi yang sama juga dapat dimanfaatkan untuk membuat konten palsu yang terlihat seperti kejadian nyata.
Salah satu istilah yang banyak muncul dalam kondisi tersebut adalah deepfake. Konten ini dapat membuat seseorang terlihat seolah-olah mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Lantas, apa itu deepfake dan bagaimana cara mengenalinya?
Deepfake merupakan konten berupa gambar, video, atau audio yang dibuat atau dimanipulasi menggunakan kecerdasan buatan dan teknologi machine learning. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk mengubah wajah seseorang, meniru suara, atau membuat seseorang terlihat melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dilakukan.
Kemampuannya yang semakin canggih membuat konten semacam ini tidak selalu mudah dikenali hanya dengan melihat sekilas. Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan manusia masih cukup kesulitan membedakan konten buatan AI dari konten asli.
Deepfake juga mulai dimanfaatkan dalam berbagai modus penipuan. Laporan FBI mengenai kejahatan internet 2025 mencatat 22.364 pengaduan yang melibatkan AI dengan kerugian hampir 893 juta dolar AS. Pelaku menggunakan profil palsu, tiruan suara, dokumen identitas, hingga video yang menampilkan tokoh publik atau orang terdekat secara meyakinkan.
1. Perhatikan gerakan bibir dan suara
Salah satu hal yang dapat diperiksa adalah kesesuaian antara suara dengan gerakan mulut. Pada konten hasil manipulasi, terkadang gerakan bibir tidak benar-benar mengikuti suara yang terdengar.
Perhatikan juga suara yang terdengar terlalu datar, perubahan intonasi yang aneh, atau pengucapan tertentu yang terasa tidak natural. Namun, tanda seperti ini tidak selalu muncul karena teknologi AI terus berkembang.
FBI dalam laporan 2025 juga mencatat bahwa dalam sejumlah kasus penggunaan voice deepfake, gerakan orang yang tampil di kamera tidak sepenuhnya sesuai dengan audio, termasuk ketika terdengar suara batuk atau bersin.
Wajah dapat menjadi salah satu bagian yang perlu diperiksa ketika melihat video atau foto yang dicurigai sebagai hasil manipulasi.
Beberapa tanda yang dapat diperhatikan antara lain kedipan mata yang terasa tidak wajar, bentuk wajah yang terlalu halus, warna kulit yang aneh, hingga batas antara rambut dan latar belakang yang terlihat tidak natural.
Meski begitu, tanda visual saja tidak cukup untuk memastikan sebuah konten merupakan deepfake. Kualitas kamera, pencahayaan, kompresi video, dan kondisi rekaman juga dapat membuat wajah terlihat tidak biasa.
Jangan hanya melihat isi foto atau video. Perhatikan juga siapa yang pertama kali mengunggahnya, kapan konten tersebut dibuat, serta apakah ada sumber terpercaya lain yang membahas kejadian yang sama.
Jika sebuah video memperlihatkan tokoh terkenal membuat pernyataan mengejutkan, jangan langsung menganggapnya benar hanya karena wajah dan suaranya terlihat meyakinkan. Cari pernyataan dari akun resmi atau media terpercaya untuk melihat apakah informasi tersebut benar.
Cara ini penting karena teknologi AI dapat membuat konten yang secara visual terlihat meyakinkan, sementara konteks di sekitarnya justru menunjukkan adanya kejanggalan.
4. Waspadai permintaan yang mendesak
Deepfake tidak hanya digunakan untuk membuat konten hiburan atau menyebarkan informasi palsu. Teknologi ini juga dapat digunakan sebagai bagian dari penipuan.
Misalnya, seseorang menerima panggilan video atau pesan suara yang tampak berasal dari keluarga, atasan, tokoh publik, atau pihak tertentu dan kemudian diminta segera mengirimkan uang atau informasi pribadi.
Dalam situasi seperti itu, jangan langsung mengikuti permintaan. Hubungi orang tersebut melalui nomor atau saluran komunikasi yang sudah diketahui benar untuk memastikan identitasnya.
FBI juga mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru memenuhi permintaan yang mencurigakan dan memberikan waktu untuk memeriksa informasi sebelum menyerahkan uang atau data pribadi.
5. Jangan mengandalkan mata dan telinga saja
Mengenali deepfake semakin sulit karena kualitas teknologi terus berkembang. Karena itu, satu tanda saja tidak cukup untuk menyimpulkan sebuah konten palsu.
Lembaga keamanan siber juga terus mengembangkan teknologi untuk mendeteksi media hasil manipulasi. National Institute of Standards and Technology (NIST), misalnya, sedang mengembangkan program evaluasi forensik untuk menguji teknologi pendeteksi deepfake dan media yang dibuat menggunakan AI.
Bagi pengguna internet, langkah paling aman adalah menggabungkan pemeriksaan visual, pengecekan sumber, pencarian informasi pembanding, dan sikap tidak terburu-buru mempercayai konten yang terlihat mengejutkan.
Deepfake pada dasarnya bukan selalu sesuatu yang buruk. Teknologi manipulasi digital dapat digunakan untuk kebutuhan kreatif, pendidikan, dan hiburan. Persoalan muncul ketika teknologi tersebut digunakan untuk menipu, menyebarkan informasi palsu, mencemarkan nama baik, atau merugikan orang lain.
Karena itu, ketika menemukan foto, video, atau suara yang terasa terlalu meyakinkan sekaligus mencurigakan, jangan langsung membagikannya. Luangkan waktu untuk memeriksa sumber dan konteksnya terlebih dahulu. Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, kemampuan memeriksa informasi menjadi semakin penting.