Sebagian arus dapat bergerak di permukaan tubuh. Fenomena ini dikenal sebagai flashover, yaitu ketika sebagian energi listrik mengalir di sepanjang permukaan kulit.
Meski begitu, panas yang dihasilkan petir tetap dapat menyebabkan luka bakar atau kerusakan pada kulit.
Energi listrik yang melewati tubuh dapat memengaruhi otot dan menyebabkan nyeri atau cedera.
Korban yang selamat juga dapat mengalami nyeri otot, terutama setelah tubuh mengalami kontraksi atau benturan saat sambaran terjadi.
Dalam beberapa kasus, korban bisa mengalami kelemahan atau gangguan fungsi tubuh akibat cedera pada saraf dan otot.
Cedera akibat petir tidak selalu berasal langsung dari aliran listrik.
Sambaran dapat menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran, mengalami kontraksi otot secara tiba-tiba, atau bahkan terlempar akibat efek ledakan. Akibatnya, korban dapat mengalami cedera sekunder seperti patah tulang, luka kepala, atau cedera akibat terbentur benda di sekitarnya.
Suara ledakan dari petir yang sangat keras juga dapat menyebabkan cedera seperti kerusakan pada gendang telinga.
Karena itu, ketika seseorang tersambar petir, pemeriksaan medis tetap penting meskipun tidak terlihat luka serius dari luar.
6. Mata dan telinga juga dapat terdampak
Sambaran petir dapat menyebabkan gangguan pada organ penglihatan dan pendengaran.
CDC menyebut cedera akibat petir dapat mencakup cedera mata, termasuk katarak yang berkaitan dengan sambaran petir. Gangguan pendengaran juga dapat terjadi akibat suara ledakan yang sangat keras atau cedera pada struktur telinga.
Gejala seperti pandangan terganggu, telinga berdenging, atau masalah keseimbangan setelah sambaran sebaiknya tidak diabaikan.