AHY mengungkapkan perlindungan Pantura dilakukan melalui pendekatan hybrid, yakni memadukan pembangunan infrastruktur fisik berupa tanggul pantai maupun tanggul laut dengan solusi berbasis alam.
Pendekatan tersebut dinilainya menjadi bagian dari strategi menghadapi kenaikan permukaan air laut dan penurunan muka tanah yang mengancam permukiman serta aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf mengatakan kegiatan di Timbulsloko merupakan demonstration plotting atau kawasan percontohan untuk mempelajari penerapan perlindungan pesisir sesuai karakteristik alam setempat.
"Di tempat lain belum tentu dilakukan seperti ini, karena perbedaan tematik masing-masing daerah itu perlu kita pelajari bersama," ucap Didit.
Didit menegaskan pembangunan perlindungan Pantura harus tetap memperhatikan mata pencaharian masyarakat, khususnya nelayan dan petambak. Karena itu, akses terhadap laut maupun tambak tidak akan ditutup seluruhnya.