NADIKABAR.COM — Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa partai berlambang pohon beringin itu lahir bukan semata-mata untuk menjadikan ketua umumnya (ketum) sebagai Presiden atau Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia.
Sejak Golkar lahir tahun 1964 dan mulai mengikuti pemilihan umum tahun 1971, menurut dia, belum pernah ada Ketua Umum Golkar yang menjadi Presiden. Pasalnya, dia mengatakan Golkar didirikan untuk menjadi instrumen politik negara dalam mewujudkan cita-cita negara.
"Partai Golkar didirikan untuk menjadi golongan penyeimbang dari partai politik sebenarnya dulu," kata Bahlil usai menghadiri acara tasyakuran HUT Ke-62 Partai Golkar di Jakarta, Selasa.
Namun, dia mengatakan bahwa satu-satunya Ketua Umum Partai Golkar yang pernah menjadi Wakil Presiden adalah Soedharmono, yakni Wapres Ke-5 Republik Indonesia. Sedangkan Wakil Presiden Ke-10 dan Ke-12 Jusuf Kalla, kata Bahlil, baru menjadi Ketua Umum Golkar setelah menjabat sebagai Wapres.
Menurut dia, Golkar memiliki doktrin dan tujuan untuk menaikkan kursi di parlemen dan mengedepankan politik yang membawa kesejahteraan.
"Partai Golkar lahir bukan atas dasar keinginan politik kelompok tertentu atau keluarga tertentu, tapi Partai Golkar lahir karena keinginan untuk menjawab sebuah tuntutan bangsa," kata dia.
Untuk itu, dia menyampaikan bahwa Golkar tidak akan mampu berdiri seperti saat ini tanpa kontribusi dari para senior atau pendahulu. Selama memimpin Golkar, dia pun mengaku hanya menjalankan jejak para seniornya.
"Dalam sejarah yang diajarkan oleh para senior, Golkar adalah sebuah partai yang lahir atas dasar respons kondisi bangsa waktu itu," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada Kabinet Merah Putih itu.