Ia juga menyoroti ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global yang berdampak terhadap Indonesia. Meski tidak terlibat langsung dalam konflik, Indonesia tetap merasakan dampaknya, salah satunya melalui kenaikan harga minyak dunia yang disebutnya telah mencapai lebih dari US$100 per barel atau sekitar US$116 per barel.

Dalam konteks tersebut, Bahlil menilai Indonesia perlu mengubah pola pengelolaan sumber daya alam yang selama ini lebih banyak mengandalkan ekspor bahan mentah.

Ia mengibaratkan pola tersebut seperti praktik perdagangan pada masa kolonial ketika bahan baku Indonesia dibawa ke luar negeri untuk diolah, kemudian hasilnya dijual kembali ke dalam negeri.

"Di zaman VOC 350 tahun ketika kita dijajah oleh Belanda, yang mereka bawa itu apa? Bahan baku kita. Bahan baku kita dibawa keluar, setelah itu mereka olah di luar, hasilnya baru dibawa ke dalam negeri. Nah, kita apakah masih memakai seperti itu atau tidak polanya?" ujarnya.

Bahlil menyebut Indonesia memiliki kekayaan sumber daya mineral yang besar. Batu bara Indonesia berada di peringkat keenam dunia, sedangkan cadangan nikel disebut sebagai yang terbesar di dunia.

Indonesia juga memiliki bauksit, tembaga, dan timah. Untuk timah, Indonesia merupakan eksportir terbesar dunia meskipun posisinya berada di bawah China dalam hal cadangan.