"Konsolidasi ini penting, urgensinya terutama, membuat bisnis asuransi BUMN menjadi lebih efisien. Tidak ada lagi kanibalisme dalam BUMN asuransi lantaran masuk di ceruk pasar yang sama," ujarnya saat dihubungi NadiKabar.
Sementara terkait peleburan Jamkrindo, Jasindo, dan Askrindo jadi BUMN asuransi kredit dan penjaminan, Herry menilai ketiga BUMN tersebut memiliki fokus bisnis yang berbeda. Karenanya proses peleburan lebih baik dilakukan dengan cara memilih satu BUMN sebagai induk, kemudian melebur dua BUMN lain ke dalamnya dan menjadi satu kesatuan.
"Tiga perusahaan ini punya fokus bisnis yang berbeda, walau pun segmen operasinya relatif ada yang sama. Di sinilah peran strategis IFG seharusnya, sebagai holding asuransi untuk mengorkestrasi sekaligus menjadi wasit agar bisnis mereka tetap patuh fokus," jelas Herry.
"Untuk itu, karena fokus bisnis sudah berbeda, justru sebaiknya jadikan satu di antaranya sebagai survival company, yang lainnya melebut ke dalam. IFG bisa buat subholding baru di bawahnya," sambungnya.
Saat ditanya terkait BUMN mana yang besar kemungkinan bisa menjadi induk BUMN asuransi kredit dan penjaminan ini, Herry berpendapat ada dua kandidat besar yakni Jamkrindo dan Askrindo. Sebab kedua BUMN ini memiliki ukuran usaha paling besar.
"Sekiranya harus memilih di antara yang ada, pilihannya ada dua yang tentu masih perlu dikaji lebih dalam, yakni Jamkrindo atau Askrindo. Kedua perusahaan itu punya pengalaman dan size bisnis yang jauh lebih besar, sehingga bisa jadi peluang atau dasar untuk dikembangkan dari sisi tata kelola, manajemen risiko, dan model bisnisnya," paparnya.
Namun saat ditanya dari dua perusahaan asuransi pelat merah tersebut yang memiliki ukuran dan pengalaman bisnis paling besar, Herry menilai pilihan jatuh pada Jamkrindo. Sehingga BUMN ini yang lebih besar kemungkinan dapat menjadi induk usaha atau survival company.
"Sepengetahuan saya, ya Jamkrindo," pungkasnya.