Bagi dunia usaha, terutama UMKM, perubahan geopolitik mungkin terasa jauh dari aktivitas sehari-hari. Pemilik warung, produsen makanan, pedagang daring, dan pelaku industri kreatif mungkin tidak mengikuti setiap perkembangan pertemuan Trump dan Xi Jinping. Namun perubahan harga bahan baku, biaya logistik, nilai tukar, daya beli, dan pola konsumsi dapat dengan cepat masuk ke dalam struktur biaya dan pendapatan mereka. Karena itu, ketahanan UMKM bukan hanya persoalan bertahan ketika penjualan turun. Ketahanan berarti mampu membaca perubahan pasar, mengendalikan biaya, mencari pemasok alternatif, memperluas kanal penjualan, dan membangun hubungan dengan pelanggan. Digitalisasi dapat memainkan peran penting dalam proses tersebut.

Digitalisasi dalam konteks ini tidak seharusnya berhenti pada kehadiran di media sosial. Platform digital perlu digunakan untuk memperluas pasar, membaca perilaku konsumen, meningkatkan efisiensi, memperkuat hubungan pelanggan, dan membuka akses terhadap rantai pasok yang lebih luas. Dengan demikian, transformasi digital menjadi bagian dari strategi produktivitas dan ketahanan usaha, bukan sekadar strategi promosi.

Pada akhirnya, perjumpaan Trump dan Xi Jinping memperlihatkan bahwa ekonomi dunia sedang memasuki fase ketika perdagangan, teknologi, keamanan, dan geopolitik semakin sulit dipisahkan. Pertemuan 24 September dapat menjadi ruang untuk mengelola ketegangan dan menjaga stabilitas hubungan ekonomi kedua negara. Namun isu struktural mengenai teknologi, mineral kritis, rantai pasok, dan persaingan industri tidak otomatis selesai hanya karena dua pemimpin bertemu.

Bagi Indonesia, pesan terpentingnya sederhana tetapi tidak ringan: jangan hanya menunggu dunia berubah. Perubahan global harus menjadi alasan untuk memperkuat industri, memperluas pasar, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperdalam hilirisasi, memperkuat UMKM, dan membangun kemampuan teknologi.

Indonesia perlu melihat rivalitas Trump dan Xi Jinping bukan hanya sebagai sumber risiko, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkuat posisi dalam ekonomi global. Bukan dengan memilih berada di salah satu kubu, melainkan dengan membangun kapasitas ekonomi sendiri sehingga Indonesia memiliki lebih banyak pilihan ketika konfigurasi perdagangan dan investasi dunia berubah.

Sebab ketika Trump dan Xi Jinping berjumpa, dunia mungkin mendapatkan ruang untuk mengelola ketegangan. Tetapi Indonesia tidak boleh sekadar menunggu apakah ruang tersebut akan bertahan lama. Yang harus dipersiapkan adalah ekonomi yang tetap mampu berdiri ketika dunia kembali berubah.

Edi Setiawan. Dosen dan Peneliti FEB Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA.