Dalam kondisi tersebut, keberhasilan industri kargo udara tidak hanya diukur dari jumlah tonase, tetapi juga nilai ekonomi barang yang diangkut. Barang bernilai tinggi dan sensitif terhadap waktu berpotensi memberikan yield lebih baik bagi operator dibandingkan komoditas berukuran besar dengan nilai ekonomi lebih rendah.
"Hilirisasi jangan berhenti ketika bahan mentah sudah berubah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Kita harus memastikan produk tersebut bisa bergerak cepat menuju pasar. Misalnya komponen elektronik, perangkat industri, produk farmasi, suku cadang kendaraan, sampai produk perikanan segar. Untuk barang seperti itu, waktu adalah bagian dari nilai ekonomi. Di sinilah penerbangan kargo memiliki keunggulan yang sulit digantikan moda lain," tutur Bamsoet.
Bamsoet menambahkan pengembangan kargo udara juga harus diarahkan untuk membangun pusat-pusat logistik udara baru di luar Pulau Jawa. Indonesia memiliki banyak sentra produksi komoditas unggulan, kawasan industri, destinasi pariwisata dan wilayah kepulauan yang membutuhkan konektivitas cepat.
Bandara di kawasan seperti Batam, Balikpapan, Makassar, Manado, Denpasar, dan Papua dapat dikembangkan sesuai karakteristik pasar masing-masing. Kehadiran pesawat kargo berbadan kecil hingga menengah juga dapat menjadi solusi untuk menjangkau wilayah dengan volume muatan yang belum cukup besar bagi pesawat kargo berbadan lebar.
Data registrasi pesawat sipil 2026 menunjukkan sejumlah operator telah menggunakan pesawat untuk kebutuhan kargo dan distribusi regional, termasuk Boeing 737-300F serta berbagai jenis pesawat turboprop.
"Kita membutuhkan model bisnis yang fleksibel. Tidak semua daerah membutuhkan pesawat kargo berbadan besar. Untuk Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi atau kawasan kepulauan lainnya, pesawat berkapasitas lebih kecil bisa menjadi penghubung dari sentra produksi menuju hub utama. Dari sana barang dapat diteruskan ke Jakarta, Singapura, Kuala Lumpur, Hong Kong, Shanghai atau pusat perdagangan lainnya. Konsep hub and spoke seperti ini harus dikembangkan secara serius," pungkas Bamsoet.