Meski Indonesia membukukan surplus sekitar US$74,8 juta, nilai tersebut masih relatif kecil jika dibandingkan dengan kapasitas ekonomi Indonesia maupun peluang pasar Maroko. Sejumlah produk Indonesia yang potensial antara lain minyak nabati dan produk olahannya, karet dan turunannya, alas kaki, tekstil, mesin dan peralatan listrik, kopi, teh serta rempah-rempah, sedangkan dari Maroko, Indonesia membutuhkan pupuk, aluminium dan bahan baku industri.

"Angka perdagangan sekitar US$235 juta itu harus kita lihat sebagai titik awal. Potensinya masih jauh lebih besar. Indonesia memiliki banyak produk yang kompetitif, sementara Maroko memiliki posisi geografis yang sangat strategis. Karena itu, kita perlu mengubah pola pikir dari sekadar menjual barang ke Maroko menjadi membangun ekosistem bisnis bersama. Kalau produk Indonesia bisa diproduksi, didistribusikan atau dikembangkan dari Maroko untuk masuk ke pasar Afrika, nilai ekonominya akan jauh lebih besar," kata Bamsoet.

Bamsoet menuturkan, contoh paling nyata bahwa Maroko dapat berfungsi sebagai basis ekspansi Indonesia ke pasar regional adalah investasi PT Indofood Sukses Makmur melalui PT Salim Wazaran Maghribi di Tiflet. Pabrik mi instan yang juga telah memiliki sertifikasi HACCP dan sertifikasi halal dari IMANOR tersebut beroperasi sejak tahun 2010, mempekerjakan sekitar 400 karyawan, dan produknya telah dipasarkan ke Maroko serta sejumlah negara lain, antara lain Qatar, Tunisia, Mauritania, Lebanon dan Sierra Leone.

"Model seperti pabrik Indofood di Maroko harus diperbanyak dan dikembangkan. Ini contoh bahwa investasi di luar negeri dapat menjadi bagian dari strategi ekspor. Produk Indonesia diproduksi atau dikembangkan di Maroko, kemudian menjangkau pasar yang lebih luas. Jadi kita tidak berpikir sempit bahwa investasi hanya berarti modal asing masuk ke Indonesia. Perusahaan Indonesia juga harus berani keluar, membangun pasar, membangun jaringan distribusi, dan membawa merek nasional ke kawasan yang selama ini belum tergarap maksimal," jelas Bamsoet.

Bamsoet menguraikan, peluang kerja sama juga terbuka lebar di sektor industri bernilai tambah. Kementerian Perindustrian pada tahun 2026 mengidentifikasi peluang kerja sama Indonesia-Maroko dalam sektor dirgantara, industri halal, farmasi dan energi baru terbarukan.