NADIKABAR.COM β€” Bank Dunia (World Bank) menilai kuatnya permintaan domestik menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah lonjakan ekspor komponen industri akal imitasi (AI) alias "AI boom" di sejumlah negara Asia Timur dan Pasifik.

Chief Economist Bank Dunia untuk Asia Franziska Ohnsorge memandang Indonesia relatif lebih sedikit terpapar dari lonjakan aktivitas global tersebut dibandingkan negara-negara lain di kawasan.

β€œKhusus untuk Indonesia ini menarik. Indonesia relatif lebih sedikit terpapar dibandingkan negara-negara lain terhadap lonjakan aktivitas global yang berkaitan dengan AI ini,” kata Franziska dalam taklimat media East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2026 secara virtual di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, kuatnya permintaan domestik menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

β€œYang benar-benar kuat di (ekonomi) Indonesia adalah permintaan domestik. Hal itulah yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dan inilah yang sedikit membedakannya dari negara-negara lain di kawasan (Asia),” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, pertumbuhan sejumlah negara di kawasan mendapat dorongan dari investasi dan ekspor produk berteknologi tinggi yang berkaitan dengan AI.

Bank Dunia mencatat permintaan terhadap produk AI menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan ekspor di sebagian besar negara kawasan. Kontribusinya bahkan mencapai lebih dari 70 persen di Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Sementara itu, Indonesia relatif belum memperoleh manfaat sebesar negara-negara tersebut dari integrasi rantai nilai global yang berkaitan dengan AI.

Namun, kondisi itu diimbangi oleh kuatnya permintaan domestik yang menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Di saat yang sama, adopsi AI tetap menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produktivitas ekonomi.

Franziska menilai negara-negara yang masih dalam tahap awal pengembangan AI tetap bisa memanfaatkan teknologi yang sudah tersedia dan menyesuaikannya dengan kebutuhan domestik.

Penguatan keterampilan sumber daya manusia, infrastruktur digital dan energi, akses pembiayaan, serta iklim usaha dinilai menjadi fondasi penting agar adopsi AI dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian.

Adapun Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen pada 2026 dan 2027.

Di sisi lain, ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik diproyeksikan tumbuh rata-rata 4,5 persen pada 2026 dan 2027.

Bank Dunia menilai penguatan permintaan domestik perlu terus diikuti dengan peningkatan investasi swasta, terutama ketika stimulus fiskal mulai berkurang.