Menurutnya, penciptaan lapangan kerja membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga filantropi, dan pemanfaatan teknologi. Skema pendanaan juga perlu disesuaikan dengan kondisi setiap negara.

Pendanaan publik dan pembiayaan konsesional tetap diperlukan di negara yang menghadapi kebutuhan besar dan risiko tinggi. Namun, mobilisasi investasi swasta dan perluasan akses pasar perlu ditingkatkan seiring menguatnya kapasitas negara tersebut.

Banga mengatakan mobilisasi modal swasta oleh Grup Bank Dunia meningkat lebih dari tiga kali lipat, dari sekitar US$35 miliar pada tahun fiskal 2022 menjadi US$112 miliar pada tahun fiskal terakhir. Jika digabungkan dengan pendanaan Bank Dunia sendiri, total pembiayaan yang dihimpun melampaui US$230 miliar.

Mobilisasi modal swasta juga hampir tiga kali lipat di negara berpendapatan menengah bawah dan empat kali lipat di negara berpendapatan menengah atas. Di Afrika, nilainya meningkat lebih dari dua kali lipat. Namun, perkembangannya masih stagnan di negara berpendapatan rendah.

Banga menekankan peran usaha kecil dalam mendorong pemulihan ekonomi, terutama di negara termiskin dan paling rentan.

"Jalan menuju pemulihan ekonomi bagi negara-negara termiskin dan paling rentan terletak pada usaha kecil mereka," ujarnya.

Usaha kecil, kata dia, kerap tumbuh di wilayah yang belum terjangkau perusahaan besar.