"Anorganik kurang lebih dari 350 kilogram, kalau organiknya hampir sama, kurang lebih 200 kilogram yang ditampung oleh bank sampah," ujarnya.

Hasil dari sampah yang tertampung pun tak disimpan begitu saja. Amalludin mengatakan, sampah organik akan diolah secara mandiri untuk kompos yang akan digunakan di tanaman. Namun, untuk sampah anorganik akan diolah kembali atau disetor ke bank sampah induk.

Untuk hasil tabungan bank sampah hasil yang terkumpul pernah mencapai hampir Rp30 juta.

Dana yang dikumpulkan tersebut terdiri tiga jenis tabungan nasabah, yakni tabungan darurat, tabungan sekolah, dan lebaran.

"Tabungan darurat, suatu saat bisa kapan saja diambil karena kebutuhan masyarakat. Yang kedua tabungan sekolah, itu untuk ketika ajaran baru kita serahkan. Dan yang ketiga adalah lebaran [untuk] warga masyarakat yang ingin beli baju ataupun ingin beli daging," jelas Amalludin.

Selama memimpin jalannya bank sampah ini, Amalludin mengatakan dirinya menghadapi sejumlah tantangan. Tantangan tersebut mulai dari kendala soal tempat dan kurangnya semangat dari warga.