NADIKABAR.COM — Pemilahan dan pengolahan sampah di DKI Jakarta kini semakin digencarkan. Terlebih dengan resmi berlakunya Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber pada Mei lalu.
Di RW 02 Kelurahan Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pemilahan dan pengolahan sampah justru sudah mulai diupayakan sejak tahun 2008. Upaya tersebut hadir melaui keberadaan Bank Sampah Nipah Berhias.
Pendiri Bank Sampah Nipah Berhias Muchammad Amalludin menyebut bank sampah ini awalnya muncul karena adanya masalah sampah di wilayahnya. Masalah tersebut meliputi banyaknya sampah yang berantakan, tertumpuk, dan tidak terolah, khususnya sampah anorganik.
"Akhirnya kami berinisiatif beberapa orang untuk mendirikan bank sampah dengan modal apa adanya, dengan tujuan bagaimana warga ada fasilitas untuk menyetorkan sampahnya sehingga bisa mengurangi timbunan sampah yang ada di RW 02," kata Amalludin, Rabu (5/11) di kediamannya.
Program ini awalnya hanya diikuti oleh beberapa orang. Kini Bank Sampah Nipah Berhias telah mengumpulkan sebanyak 220 nasabah warga RW 02.
Amalludin mengatakan, bank sampah ini terbuka setiap hari. Namun, jadwal wajib operasional untuk penimbangan sampah anorganik adalah di hari Sabtu dan Minggu. Sedangkan, untuk sampah organik akan dikumpulkan sebanyak seminggu sekali
"Anorganik kurang lebih dari 350 kilogram, kalau organiknya hampir sama, kurang lebih 200 kilogram yang ditampung oleh bank sampah," ujarnya.
Hasil dari sampah yang tertampung pun tak disimpan begitu saja. Amalludin mengatakan, sampah organik akan diolah secara mandiri untuk kompos yang akan digunakan di tanaman. Namun, untuk sampah anorganik akan diolah kembali atau disetor ke bank sampah induk.
Untuk hasil tabungan bank sampah hasil yang terkumpul pernah mencapai hampir Rp30 juta.
Dana yang dikumpulkan tersebut terdiri tiga jenis tabungan nasabah, yakni tabungan darurat, tabungan sekolah, dan lebaran.
"Tabungan darurat, suatu saat bisa kapan saja diambil karena kebutuhan masyarakat. Yang kedua tabungan sekolah, itu untuk ketika ajaran baru kita serahkan. Dan yang ketiga adalah lebaran [untuk] warga masyarakat yang ingin beli baju ataupun ingin beli daging," jelas Amalludin.
Selama memimpin jalannya bank sampah ini, Amalludin mengatakan dirinya menghadapi sejumlah tantangan. Tantangan tersebut mulai dari kendala soal tempat dan kurangnya semangat dari warga.
Ia pun menyebut hingga kini baru 45 persen rumah di wilayahnya yang benar-benar berpartisipasi dalam pemilahan sampah.
Terlepas dari semua tantangan tersebut, Amalludin meyakini bahwa bank sampah adalah garda terdepan dalam mengedukasi warga untuk memilah sampah
"Ada tiga manfaat bank sampah: secara ekonomi, secara sosial, dan secara lingkungan sehingga dapat berdampak dari warga, oleh warga, dan untuk warga," lanjut Amalludin.
Upaya pengelolaan sampah yang dilakukan Amalludin menjadikannya salah satu peserta di Pilah Olah Sampah Heroes 2026. Program ini merupakan program yang dijalankan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik).
Harapannya, program ini dapat menjadi bentuk apresiasi bagi para pahlawan lingkungan yang memiliki aksi nyata dan mampu menggerakkan warga lainnya untuk peduli terhadap sampah.
Program Pilah Olah Sampah Heroes 2026 kini telah sampai di tahap verifikasi lapangan. Sebanyak 15 peserta mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan aksi nyata di tempat mereka secara langsung kepada para juri. Pemenang dari program ini baru akan diumumkan pada Selasa (10/11) mendatang.