Dalam forum tersebut, sejumlah santri turut menyampaikan usulan. Salah satunya, Elsya Putri Natalia Saputro, yang mengusulkan pendampingan keterampilan nonteknis (soft skill) berbasis digital untuk membantu santri mengembangkan kompetensi, terutama di era digital.
"Santri kerap dinilai ketinggalan zaman dan gagap teknologi. Maka, kami berharap agar pemkab memberikan pendampingan dan pelatihan softskill berbasis digital bagi para santri. Karena di zaman yang serba digital ini, skill tersebut sangat kita butuhkan," ujar Elsya, santri Pondok Pesantren Adz-Dzikra yang tengah menempuh kuliah di Universitas Cordoba Banyuwangi.
Usulan lainnya disampaikan M. Ibrahim Al Hafidi yang menyoroti fenomena sound horeg yang tengah menjadi perbincangan di masyarakat. Ia berharap ada ketentuan hukum dan aturan yang jelas agar fenomena tersebut tidak menimbulkan gangguan, tetapi tetap dapat menjadi hiburan yang mendidik sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi warga.
"Harus ada ketentuan hukun dan aturan yang jelas. Sehingga adanya fenomena ini tidak mengganggu, melainkan bisa menjadi ajang hiburan yang mendidik, serta memberikan dampak ekonomi bagi warga," ujarnya.
Selain itu, para santri menyampaikan harapan terkait pencegahan kekerasan dan perundungan di lingkungan pondok pesantren. Mereka menilai peran pengasuh dan pendamping santri penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan memberikan dukungan emosional bagi para santri yang tinggal jauh dari orang tua.
"Peran kyai harus bisa menggantikan sosok ayah di rumah. Pendamping kamar juga harus bisa merangkul dan mengayomi sehingga santri merasa aman dan mendapatkan kasih sayang penuh meski jauh dari orang tua," ujarnya.