NADIKABAR.COM — Bapak Kendaraan Listrik Asia, Prof Ching-Chuen Chan menyatakan dukungannya untuk mengembangkan talenta kendaraan listrik Indonesia melalui berbagai program kerja sama di bidang ekosistem kendaraan listrik.

Hal tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Prof Chan dengan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie di Jakarta, Selasa (27/10).

Prof Chan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu, menekankan bahwa pengembangan kendaraan listrik membutuhkan ekosistem yang menghubungkan riset, industri, pendidikan, dan kebijakan pemerintah. Ia juga menyoroti pentingnya penguasaan teknologi melalui pendidikan dan inovasi yang dikembangkan sesuai kebutuhan nasional.

"Teknologi tidak bisa hanya dibeli, tetapi harus dikembangkan sendiri. Kita harus mendidik generasi muda, menentukan arah pengembangan teknologi sendiri, serta menemukan dan menciptakan teknologi kendaraan listrik kita sendiri. Kita tidak bisa hanya mengharapkan pihak lain memberikan teknologi kepada kita," katanya.

Profesor kelahiran Magelang, Jawa Tengah 89 tahun silam itu menyarankan agar pengembangan kendaraan listrik di Indonesia dimulai dari kendaraan roda dua dan kendaraan berdaya rendah.

Menurutnya, pendekatan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekaligus membuka peluang penerapan kendaraan listrik secara lebih luas.

Sementara itu, Wamen Stella menyampaikan bahwa Indonesia perlu memanfaatkan momentum pengembangan kendaraan listrik melalui penyiapan SDM dan kebijakan pendidikan tinggi yang terarah. Pengembangan talenta perlu berjalan seiring dengan kebutuhan industri agar lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang relevan.

"Indonesia memiliki sumber daya alam dan talenta yang dapat dikembangkan. Namun, kita membutuhkan kebijakan yang tepat untuk mendorong talenta tersebut. Kita juga perlu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan teknologi kendaraan listrik," ujarnya.

Wamen Stella menilai pendidikan vokasi menjadi salah satu bagian penting dalam menyiapkan tenaga kerja untuk industri kendaraan listrik. Menurutnya, proporsi pendidikan tinggi vokasi di Indonesia masih sekitar 8 persen dari keseluruhan pendidikan tinggi.

"Kita perlu meningkatkan jumlah pendidikan vokasi secara signifikan. Saat ini, pengangguran di kalangan lulusan universitas cukup tinggi, sementara industri kendaraan listrik masih membutuhkan tenaga insinyur. Karena itu, kita perlu menyiapkan lebih banyak talenta melalui pendidikan vokasi," katanya.

Menurut Wamen Stella, perguruan tinggi perlu memetakan kebutuhan industri untuk menentukan kompetensi yang harus dikembangkan melalui pendidikan. Pemetaan tersebut dapat menjadi dasar penyelarasan kurikulum, penyediaan program magang, dan pelibatan praktisi industri dalam pembelajaran.

Ia menuturkan pemerintah ingin mencocokkan kebutuhan industri dengan program pendidikan di perguruan tinggi agar industri dapat terlibat dalam kurikulum agar mahasiswa sudah mengenal industri kendaraan listrik sebelum mereka lulus.

"Mahasiswa juga dapat memperoleh kesempatan magang, sementara kurikulum diarahkan agar sesuai dengan kebutuhan industri. Industri juga dapat mengirimkan tenaga ahli untuk mengajar di politeknik," ucap Stella Christie.