Selain kelebihan zinc, Hermawan menyebut bahwa sekitar 90 persen kandungan gizi pada beras fortifikasi yang diperiksa terbukti tidak sesuai. Ada produk yang sama sekali tidak ditambahkan vitamin, serta ada pula yang kandungannya jauh di bawah standar dari yang disematkan pada kemasan.

"Ada 90% itu tidak benar. Jadi semuanya ada yang tidak pakai sama sekali vitamin, ada yang kurang persennya jauh sekali dari yang diinginkan oleh masyarakat, seperti zink, vitamin B, nah itu sangat jauh yang diharapkan oleh masyarakat," jelas dia.

"Bahwa 90% yang ditemukan oleh tim Bapanas beserta Bareskrim yang klaimnya kalau fortifikasi adalah beras premium, faktanya adalah beras medium," imbuh Hermawan.

Dia menerangkan, secara hitungan biaya, beras medium seharga Rp 13.500 per kilogram dengan penambahan 1 persen kernel vitamin senilai Rp 1.000 semestinya dijual sekitar Rp 14.500 per kilogram. Namun, produsen justru menjualnya dengan harga selangit, yakni antara Rp 23.000-Rp 57.000 per kilogram.

"Apalagi klaimnya premium, ternyata berasnya beras medium. Jadi harga ini lonjakannya terlalu tinggi," sebutnya.