Ia mengakui penyiapan proyek usaha yang layak memperoleh investasi masih menghadapi tantangan. Menurut dia, berbagai kegiatan peningkatan kapasitas dan penyediaan perangkat pendukung belum selalu menghasilkan produk atau model bisnis yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Karena itu, pengembangan kewirausahaan perlu memperhatikan kebutuhan pasar sejak tahap awal, termasuk kemampuan menghasilkan produk dengan harga yang kompetitif dan produktivitas yang lebih tinggi.

Menurut Luhur, peningkatan produksi tidak cukup dilakukan hanya dengan menambah modal, jumlah tenaga kerja, atau bahan baku, melainkan harus disertai penguatan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi dari sumber daya manusia.

"Ke depan kita harus menambah pengetahuan, skills, dan teknologi supaya bisa tidak hanya produktivitas naik, tapi efisiensinya juga naik," katanya.

Ia menambahkan pengembangan SDGs Entrepreneurial Center akan mencakup tahapan inkubasi, penguatan inovasi, hingga penghubungan pelaku usaha dengan mitra industri dan pengelola dana.

Dalam pelaksanaannya hingga saat ini, Bappenas berencana memanfaatkan fasilitas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan Technology Transfer Office atau layanan alih teknologi.

"Kita akan memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada di BRIN," ujar Luhur.

Pemanfaatan fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu penerapan hasil penelitian dalam kegiatan usaha sehingga inovasi tidak berhenti pada tahap pengembangan teknologi, tetapi dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi sumber daya.