NADIKABAR.COM — Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Bappenas (Kementerian PPN/Bappenas) memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mendorong transisi menuju ekonomi sirkular melalui peluncuran Circular Economy Steering Group (CE SG).
Platform koordinasi ini diinisiasi untuk mendukung perumusan kebijakan, sinkronisasi program, dan pemanfaatan sumber daya secara efisien. CE SG juga memperkuat kolaborasi antara kementerian/lembaga dan mitra pembangunan dalam mendukung implementasi Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular (RAN-ES) 2025-2045.
“Saya berharap Circular Economy Steering Group yang akan diresmikan hari ini bisa mewadahi adanya eskalasi inisiatif sirkular yang masif dan juga memitigasi risiko tumpang tindih. Melalui steering group, kita bisa menyelaraskan misi dari berbagai kementerian yang didukung dengan mitra-mitra pembangunan dan tentu saja didukung juga oleh komunitas dunia usaha,” ujar Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A. A. Teguh Sambodo dalam agenda peluncuran CE SG, dari keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Kehadiran CE SG diharapkan menjembatani arah kebijakan nasional dengan kebutuhan implementasi ekonomi sirkular di lima sektor prioritas, yaitu pangan, plastik kemasan, elektronik, konstruksi, dan tekstil.
Kelima sektor tersebut berkontribusi hampir sepertiga terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan menyediakan lapangan kerja bagi lebih dari 43 juta orang pada 2019.
Kajian pengembangan RAN-ES memperkirakan transisi menuju ekonomi sirkular berpotensi menambah PDB hingga Rp638 triliun dan menciptakan 4,4 juta lapangan kerja baru pada 2030, sekaligus mengurangi 18-52 persen timbulan sampah dan 126 juta ton emisi gas rumah kaca.
“Penerapan ekonomi sirkular tidak hanya menjadi solusi atas persoalan sampah dan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Untuk memastikan manfaat tersebut dirasakan secara merata, berbagai program dan inisiatif ekonomi sirkular yang dijalankan kementerian/lembaga perlu diselaraskan agar tidak tumpang tindih dan lebih berdampak optimal bagi masyarakat,” kata Teguh.
Dalam memperkuat koordinasi, CE SG akan membentuk kelompok kerja (working groups) di lima sektor prioritas yang menyatukan kementerian/lembaga terkait serta mitra pembangunan yang selama ini memberikan masukan teknis, berbagi pengalaman, serta mempercepat implementasi rencana aksi.
Sementara itu, Sekretariat CE SG akan mengoordinasikan seluruh kegiatan, termasuk penyusunan rencana kerja, konsolidasi data dan pelaporan, pemantauan dan evaluasi, serta komunikasi.
“Inilah saatnya kita dapat berkolaborasi menjadi lebih baik dan mencoba menunjukkan bahwa melalui kolaborasi ini kita bisa memastikan adanya kesempatan yang ditimbulkan dari ekonomi sirkular Indonesia untuk mendukung pertumbuhan yang lebih berkelanjutan, mengurangi kemiskinan, dan pada saat yang sama memastikan setiap sumber daya yang ada, termasuk sumber daya manusianya, dapat terlibat secara aktif,” ungkap dia.
Menurut Director Urban Development Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit GmbH (GIZ) Indonesia & ASEAN Thomas Foerch, ekonomi sirkular bukanlah “sprint”, melainkan sebuah perjalanan panjang.
“Tidak ada kementerian maupun mitra pembangunan yang dapat menempuhnya sendirian. CE SG adalah wadah bagi kita untuk melangkah bersama. Platform ini menghubungkan kebijakan nasional dengan praktik di lapangan, serta mempertemukan pemerintah, mitra pembangunan, dan sektor swasta dalam satu meja,” ucapnya.
Inisiatif penguatan koordinasi termasuk dukungan pembentukan Sekretariat CE SG difasilitasi oleh Pemerintah Federal Jerman di bawah payung kerja sama teknis dengan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas. Kerja sama ini diimplementasikan oleh GIZ Indonesia & ASEAN atas mandat Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ).
Melalui koordinasi yang lebih terarah, CE SG diharapkan dapat mengawal Indonesia memperkuat keterhubungan antara prioritas nasional dan aksi sektoral.
Ke depannya, CE SG akan berkoordinasi secara efektif melalui penyusunan dan pengesahan work plan di setiap working group, pertemuan pleno secara berkala, serta diskusi lainnya perihal teknis maupun lintas sektor. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk membangun ekosistem ekonomi sirkular yang terintegrasi, kolaboratif, dan mampu mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.