NADIKABAR.COM — Badan Karantina Indonesia (Barantin) mendorong dan mengajak perusahaan besar, termasuk di sektor sarang burung walet dan perikanan, untuk turut membina usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar semakin siap memasuki pasar ekspor.
Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengatakan keterlibatan perusahaan besar diharapkan dapat memperluas pendampingan kepada calon eksportir, melengkapi layanan pembinaan yang telah dijalankan melalui Klinik Ekspor Karantina.
"Bahkan sekarang saya mendorong perusahaan-perusahaan misalnya walet, perusahaan perikanan agar punya binaan UMKM untuk ekspor," kata Karding di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan pembinaan oleh perusahaan besar dapat menjadi sarana bagi pelaku UMKM untuk memperoleh pengalaman dan pengetahuan dalam mengembangkan usaha berorientasi ekspor.
Karding juga mencontohkan peluang magang dan pembinaan bagi lulusan perguruan tinggi di perusahaan yang telah memiliki pengalaman usaha, sehingga mereka memperoleh bekal sebelum mengembangkan bisnis sendiri.
"Selain klinik ekspor, kita juga mendorong, mengimbau kepada perusahaan-perusahaan besar untuk punya binaan," ujarnya.
Menurut Karding, upaya memperluas pembinaan calon eksportir juga perlu diikuti pendekatan yang lebih aktif dari jajaran Barantin dalam menjangkau pelaku usaha di berbagai daerah.
Ia telah meminta seluruh jajaran karantina proaktif mendatangi UMKM, mahasiswa, dan kelompok masyarakat yang membutuhkan pendampingan untuk mengembangkan usaha.
Melalui Klinik Ekspor, Barantin memberikan konsultasi dan bimbingan mengenai standar karantina, mutu produk, ketertelusuran, serta persyaratan teknis yang ditetapkan negara tujuan ekspor.
Sebelumnya, pada 23 Oktober 2026, Barantin menyampaikan bahwa layanan Klinik Ekspor Karantina telah tersedia di seluruh provinsi untuk membantu pelaku usaha memahami persyaratan sebelum mengirimkan produknya ke pasar internasional.
Upaya tersebut juga sejalan dengan Gerakan 1.000 Pelaku Usaha Ekspor dan Pengusaha UMKM Menuju Pasar Global yang dideklarasikan Barantin bersama Kementerian UMKM dan pemerintah daerah di Sulawesi Tengah pada 28 September 2026
Gerakan itu bertujuan meningkatkan kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi standar kesehatan, keamanan, mutu, dan ketertelusuran produk agar komoditas unggulan daerah memiliki peluang lebih besar memasuki pasar ekspor
Data Barantin mencatat ekspor durian Sulawesi Tengah ke China hingga Agustus 2026 mencapai 8.377 ton dengan nilai sekitar Rp871 miliar.
Selain durian, komoditas perikanan Sulawesi Tengah yang telah memasuki pasar internasional antara lain kepiting bakau, kerang darah, tuna, dan sidat hidup.
Karding menegaskan pendampingan pelaku usaha perlu terus diperluas melalui langkah aktif jajaran karantina agar UMKM dan calon wirausaha semakin mudah memperoleh informasi serta pembinaan terkait persyaratan ekspor.
"Saya sudah minta seluruhnya harus proaktif, menjemput bola ke UMKM atau ke mahasiswa atau kelompok-kelompok yang memang perlu dibina," tuturnya.