“Harapannya, persoalan ini tidak terulang lagi pada tahun-tahun berikutnya. Kita tidak ingin kebakaran hutan ini terus terjadi setiap tahun,” ujarnya.
Pemutaran monolog itu dilanjutkan dengan diskusi publik yang melibatkan pegiat seni, anggota legislatif, dan organisasi nonpemerintah. Diskusi tersebut membahas karhutla tidak hanya dari aspek lingkungan, tetapi juga melalui perspektif politik, kebudayaan, dan agama.
Anggota DPRD Kota Pontianak Samsudin mengapresiasi keterlibatan pegiat seni dalam mengangkat persoalan karhutla melalui karya kreatif dan diskusi publik. Menurut dia, pendekatan tersebut dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan kritik dan keresahan masyarakat.
“Harapan saya, anak-anak muda tetap solid dan fokus pada bidang masing-masing. Jangan menyia-nyiakan kesempatan dan ilmu yang didapatkan di bangku kuliah sebagai penyambung lidah keresahan masyarakat,” katanya.