Sementara itu, adanya bercak darah kecil pada telur tidak otomatis berarti telur sudah rusak. Menurut USDA, bercak darah dapat terjadi akibat pecahnya pembuluh darah kecil saat proses ovulasi dan tidak menunjukkan bahwa telur tidak aman dikonsumsi.

5. Perhatikan lama dan cara penyimpanan

Kesegaran telur juga sangat dipengaruhi oleh cara penyimpanannya. Telur sebaiknya segera dimasukkan ke lemari pendingin setelah dibeli dan disimpan dalam kemasan aslinya.

FDA merekomendasikan telur disimpan pada suhu sekitar 4 derajat Celsius atau lebih rendah. Untuk menjaga kualitasnya, telur dalam cangkang dapat digunakan dalam waktu sekitar tiga minggu setelah disimpan di lemari pendingin.

Telur juga sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang. FDA menyarankan makanan yang membutuhkan pendinginan, termasuk telur, tidak berada di suhu ruang lebih dari dua jam atau satu jam jika suhu udara lebih dari 32 derajat Celsius.

Jadi, sebelum memasak telur yang sudah lama tersimpan, jangan hanya mengandalkan tanggal pembelian. Periksa cangkangnya, pecahkan di wadah terpisah, lihat kondisi putih dan kuning telurnya, kemudian cium aromanya.

Jika telur mengeluarkan bau busuk, cangkangnya rusak atau isi telur menunjukkan tanda pembusukan, lebih baik tidak dikonsumsi. Dalam kondisi ragu, membuang satu butir telur tentu lebih aman daripada mengambil risiko mengonsumsi telur yang sudah tidak layak.