NADIKABAR.COM — Telur menjadi salah satu bahan makanan yang hampir selalu tersedia di rumah. Selain mudah diolah, telur juga bisa disimpan cukup lama jika ditempatkan dengan cara yang tepat. Meski begitu, telur juga bisa mengalami penurunan kualitas atau bahkan busuk jika terlalu lama disimpan.
Sebelum memasak, ada beberapa cara sederhana yang dapat Anda lakukan untuk mengetahui apakah telur masih segar atau sudah tidak layak makan. Pemeriksaan ini penting agar telur yang sudah rusak atau busuk tidak ikut masuk ke dalam masakan.
Berikut beberapa cara yang bisa Anda coba.
Langkah pertama adalah melihat kondisi cangkang telur. Telur yang masih baik seharusnya memiliki cangkang yang utuh dan tidak retak.
Hindari menggunakan telur yang cangkangnya pecah, retak atau mengalami kebocoran, terutama jika kondisi tersebut sudah terjadi sebelum telur disimpan. USDA juga menyarankan konsumen memilih telur dengan cangkang yang bersih dan tidak retak ketika membeli.
Jika terdapat kotoran pada cangkang, telur sebaiknya tetap ditangani dengan hati-hati agar kotoran atau bakteri dari permukaan tidak berpindah ke makanan.
2. Pecahkan telur di wadah terpisah
Jangan langsung memecahkan telur ke dalam bahan masakan, terutama jika telur sudah cukup lama disimpan atau kondisinya diragukan.
Pecahkan telur terlebih dahulu ke mangkuk atau wadah terpisah. Cara ini membuat kondisi putih telur, kuning telur dan aromanya lebih mudah diperiksa. Jika ternyata telur sudah rusak, bahan masakan lain tidak ikut tercampur.
Telur yang masih segar umumnya memiliki putih telur yang lebih kental dan kuning telur yang terlihat lebih kokoh. USDA menjelaskan bahwa putih telur yang keruh justru dapat menjadi tanda telur masih sangat segar, sedangkan putih telur yang semakin bening menunjukkan telur mulai menua.
Aroma menjadi salah satu tanda paling mudah untuk mengetahui telur sudah rusak atau belum. Telur yang masih baik biasanya tidak mengeluarkan bau menyengat ketika dipecahkan.
Sebaliknya, telur yang sudah rusak dapat mengeluarkan bau busuk atau menyengat yang langsung terasa. Jika muncul aroma yang membuat ragu, sebaiknya telur tidak digunakan.
Namun, perlu diingat bahwa tidak semua makanan yang mengandung bakteri berbahaya akan menunjukkan perubahan bau, warna atau rasa. Karena itu, pemeriksaan aroma bukan satu-satunya patokan keamanan makanan.
4. Perhatikan warna dan bentuk isi telur
Setelah dipecahkan, perhatikan putih dan kuning telurnya. Jika putih telur terlihat merah muda atau berwarna-warni seperti pelangi, kondisi tersebut dapat menjadi tanda telur mengalami kerusakan. USDA menyebut perubahan tersebut dapat berkaitan dengan bakteri tertentu yang menyebabkan pembusukan.
Sementara itu, adanya bercak darah kecil pada telur tidak otomatis berarti telur sudah rusak. Menurut USDA, bercak darah dapat terjadi akibat pecahnya pembuluh darah kecil saat proses ovulasi dan tidak menunjukkan bahwa telur tidak aman dikonsumsi.
5. Perhatikan lama dan cara penyimpanan
Kesegaran telur juga sangat dipengaruhi oleh cara penyimpanannya. Telur sebaiknya segera dimasukkan ke lemari pendingin setelah dibeli dan disimpan dalam kemasan aslinya.
FDA merekomendasikan telur disimpan pada suhu sekitar 4 derajat Celsius atau lebih rendah. Untuk menjaga kualitasnya, telur dalam cangkang dapat digunakan dalam waktu sekitar tiga minggu setelah disimpan di lemari pendingin.
Telur juga sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang. FDA menyarankan makanan yang membutuhkan pendinginan, termasuk telur, tidak berada di suhu ruang lebih dari dua jam atau satu jam jika suhu udara lebih dari 32 derajat Celsius.
Jadi, sebelum memasak telur yang sudah lama tersimpan, jangan hanya mengandalkan tanggal pembelian. Periksa cangkangnya, pecahkan di wadah terpisah, lihat kondisi putih dan kuning telurnya, kemudian cium aromanya.
Jika telur mengeluarkan bau busuk, cangkangnya rusak atau isi telur menunjukkan tanda pembusukan, lebih baik tidak dikonsumsi. Dalam kondisi ragu, membuang satu butir telur tentu lebih aman daripada mengambil risiko mengonsumsi telur yang sudah tidak layak.