NADIKABAR.COM — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu harus menerima kenyataan sangat pahit bahwa dia kini menjadi pemimpin yang terisolasi dari bagian terbesar dunia.
Pidatonya di depan Majelis Umum PBB pada 24 September mendapat penolakan dari banyak pihak, yang dipuncaki oleh aksi walk out oleh sejumlah besar delegasi, termasuk Indonesia.
Lebih mengenaskan lagi adalah dia kini menghadapi fakta bahkan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, sudah enggan bersepakat dengannya.
Biasanya dalam acara tahunan PBB di New York, acara Netanyahu di AS selalu satu rangkaian dengan pertemuan politik dan bilateral dengan para pemimpin dunia, khususnya AS.
Tetapi tahun ini dia menghadapi kenyataan yang memalukan, bukan saja bagi dirinya, tapi juga bagi Israel, yakni tidak bisa bertemu dengan Presiden AS Donald Trump.
"Netanyahu memang bisa bertemu dengan pemimpin Argentina dan Yunani, tapi dia tak bisa bertemu dengan seorang pun politisi atau pejabat pemerintah AS. Artinya, bukan hanya Eropa yang menjauhi dia, tapi juga Amerika," kata mantan direktur jenderal Kementerian Luar Negeri Israel, Alon Liel, seperti disiarkan harian Turki, Daily Sabah.
Timpalan Liel yang mantan duta besar Israel untuk AS, Michael Oren, menyatakan dari sepengetahunnya tak pernah ada perdana menteri Israel yang mengadakan lawatan ke AS tanpa dibarengi pertemuan dengan Presiden AS.
Netanyahu bahkan hanya delapan jam berada di New York. Dia memang disebut-sebut memiliki agenda bertemu dengan para pemimpin Argentina, Bolivia, Paraguay, Ethiopia, Kolombia, Yunani, Slovenia dan Papua New Guinea.
Tetapi dia tak punya agenda bertemu dengan Trump, PM Inggris Andy Burnham, dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang sebelumnya selalu masuk dalam agendanya di PBB.
Ironisnya, sejak Februari lalu, dia dan Trump bahu-membahu memerangi Iran.
Trump memang sudah delapan kali bertemu dengan Netanyahu selama periode keduanya sebagai presiden Amerika Serikat. Tapi sejak Juli sudah tak bertemu lagi.
Banyak yang beranggapan Netanyahu dan Trump sudah tidak sejalan. Netanyahu berseberangan dengan AS menyangkut kesepakatan gencatan senjata dengan Iran, sedangkan Trump sudah tak lagi terganggu oleh sikap sekutu-sekutunya terhadap Israel.
Salah satunya langkah Inggris, 8 September, yang mengeluarkan larangan berdagang dengan pemukim liar Israel di Tepi Barat. Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband bahkan menyebut para pemukim Yahudi di Tepi Barat itu sebagai teroris yang melakukan pembersihan etnis.
Langkah Inggris itu adalah manifestasi dari sikap negara itu, yang mengakui Negara Palestina pada September 2025.