Di sisi lain, blokade Amerika Serikat (AS) yang diberlakukan sejak Juli 2026 secara efektif juga menghentikan impor bahan bakar yang sebelumnya cukup membantu dalam menutup kesenjangan antara pasokan dan permintaan domestik Iran.
Blokade tersebut juga menghambat ekspor minyak Iran menggunakan kapal tanker besar yang melintasi Selat Hormuz, sehingga berdampak terhadap pendapatan valuta asing negara tersebut.
Selain gangguan perdagangan dan pasokan bahan bakar, fasilitas energi Iran juga mengalami kerusakan akibat konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Sebab selama perang fasilitas migas nasional, perusahaan petrokimia, serta depo bahan bakar utama dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Berbagai kondisi inilah yang membuat Presiden Iran Masoud Pezeshkian akhirnya sempat menandatangani arahan pada 12 September 2026 yang memerintahkan lembaga pemerintah memfasilitasi kerja jarak jauh bagi pegawai yang pekerjaannya memungkinkan, dengan tujuan mengurangi biaya konsumsi bensin, listrik, dan gas alam negara.
"Kami telah memulai penghematan konsumsi dari pemerintah," kata Pezeshkian pada awal September ini.