Tysa pun menjelaskan awal mula angka 400 tersebut bisa keluar. Awalnya, pada Selasa pagi guru di sekolah tersebut mengumpulkan siswa yang mengkonsumsi MBG pada hari Senin. Mereka ditanya mengalami sakit perut atau tidak.
Jumlah siswa yang menjawab merasakan sakit perut ada 400. Akhirnya, mereka semua dibawa ke rumah sakit terdekat.
"Dari siswa tersebut ketika ditanya, mereka mungkin ada rasa seperti psikosomatis ya, ada yang ditanyakan ada rasa sakit perut enggak? Akhirnya 400 orang bilang kayaknya saya sakit perut. Nah, kemudian 400-nya itu dibawa ke rumah sakit terdekat," ujar Tysa.
Dari total 400 orang yang dipantau, sebanyak 40 orang membutuhkan observasi lanjutan hingga siang hari. Hingga sore hari, jumlah siswa yang masih menjalani observasi tersisa 13 orang.
Tysa mengatakan BGN tidak mengecilkan peristiwa yang berdampak terhadap kesehatan para penerima manfaat tersebut. Namun, ia mengatakan jumlah yang diobservasi tersebut ada 13 orang dari total 2 ribu lebih penerima MBG di Dramaga, Bogor.
"Kami tentu tidak mengecilkan peristiwa yang berdampak terhadap kesehatan para penerima manfaat itu, tapi dari data yang kami dapatkan, saat ini ada 13 orang yang masih diobservasi di rumah sakit terdekat dari total 2 ribu lebih penerima manfaat dari dua sekolah di Dramaga, di Bogor," ujar Tysa.