Selain itu, siswa yang masih lapar dapat mengambil tambahan makanan selama persediaan masih tersedia.

Dengan mekanisme tersebut, porsi awal tetap disesuaikan dengan kebutuhan gizi, sementara makanan tambahan disediakan sebagai cadangan.

Sudaryono menambahkan, sekolah dengan jumlah siswa besar dapat memiliki dapur di lingkungan sekolah. Sementara sekolah dengan jumlah siswa lebih sedikit akan dilayani melalui dapur terpusat atau central kitchen.

Ia menyebut metode tersebut mengacu pada praktik penyediaan makanan di sejumlah negara, termasuk Jepang dan negara-negara Eropa.

"Ini adalah best practice yang kami belajar dari banyak negara dan beberapa negara salah satunya Jepang, kemudian ada dari Eropa juga kami lihat, caranya sama. Jadi sebetulnya ini best practice, bukan karangan saya," kata Sudaryono.

Selain mengubah metode penyajian, BGN memperkuat pengawasan operasional dapur melalui pemasangan CCTV yang terhubung dengan sistem pemantauan terpusat berbasis AI.

Sudaryono menargetkan sedikitnya 5.000 hingga 10.000 dapur dari sekitar 26.300 SPPG dapat terhubung dengan sistem tersebut hingga akhir 2026.